INJIL LUKAS

May 27, 2009

INJIL LUKAS

A. Latar Belakang

Dunia pada zaman Perjanjian Baru itu dipenuhi kesibukan dan kejadian – kejadian yang mengasyikkan. Semua jalan menuju ke Roma. Kekuasaan dunia yang berpenduduk dipegang oleh para kaisar, dalam tahun – tahun sebelum Kristus, Allah telah bekerja dalam kehidupan orang – orang tertentu dan juga negara – negara. Banyak orang mengambil bagian dalam zaman sebelum Kristus ini. Tiga bangsa yang memainkan peranan utama dalam persiapan adalah bangsa Ibrani dan agamanya, bangsa Yunani dan agamanya serta bangsa Romawi dan organisasi sosial dan politiknya.

Kata “Perjanjian Baru” berasal dari bahasa Latin Novum Testamentum yang merupakan terjemahan dari bahasa Yunani Hê Kainê Diathêkê yang biasa digunakan untuk menyatakan suatu pesan atau wasiat terakhir.

Perjanjian Baru terdiri dari 27 buku, yang berdasarkan sifat – sifatnya Perjanjian Baru diberikan kepada kita setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantara nabi – nabi, maka zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantara AnakNya ( Ibrani 1 : 52 ).

Dalam Perjanjian Baru ada tiga Injil sinoptik yaitu Matius, Markus, Lukas, ketiga Injil ini dikatakan Injil sinoptik karena banyaknya persamaan bahasa dan susunan kalimat. Diantara Ketiga injil sinoptik ini, Lukaslah yang paling banyak memberikan keterangan mengenai asal usulnya sendiri. Sang Penulis yang tidak memberitahukan namanya, menyertakan suatu bab pembukaan yang menyatakan tujuannya dalam menulis Injil ini, metode yang ia gunakan dan hubungannya dengan rekan-rekan sezamannya yang sudah mencoba melakukan hal sama. Kata pembuka ini (Lukas 1:1-4) adalah kunci bagi kitab ini. Dan juga bagi kitab Kisah Para Rasul, bila Injil dan Kisah Para Rasul dianggap merupakan suatu kesatuan. Pada intinya Injil Lukas secara garis besar mengambil kerangka Markus. Khususnya pada pasal 1 – 13. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa hubungan dari 3 Injil sinoptik sangatlah erat.

A.1 Penulis

Tradisi – tradisi yang mengaitkan Injil ketiga dengan seseorang yang bernama Lukas dari abad ke-2M. Konon Muratoria dan Prakarta anti Marcion pada Injil Lukas,serta Ireneus, Clemens dari Aleksandria, Origenes dan Tertullianus, semua menyebut Lukas sebagai penulisnya. Ciri khas Injil Lukas merupakan Jilid Pertama dari dua – jilid sejarah mengenai kekristenan mula – mula yang dilanjutkan dalam Kisah Para Rasul. Gaya dan jenis bahasa kedua kitab itu begitu mirip sehingga tidak ada keragu – raguan lagi bahwa keduanya merupakan hasil karya satu orang penulis.

Menurut Eusebius, Lukas berasal dari Antiokhia di Siria dan salah satu naskah kuno Kisah Para Rasul memberitahu secara tersirat ia berada di Antiokhia ketika jemaat disitu menerima berita tentang bahaya kelaparan yang akan menimpa mereka ( Kisah 11 : 28 ).

Lukas menjadi orang kristen selambat-lambatnya 15 tahun setelah Pentakosta. Ia menjadi teman dan rekan sekerja Paulus dan meyertainya dalam perjalanannya yang kedua setelah keduanya bertemu di Troas (Kis 16:10). Ia tinggal di Filipi sebagai gembala sidang sedang Paulus melanjutkan pelayanan kelilingnya di Akhaya, dan di Asia kecil (19:1-41) setelah megunjungi Antiokhia (18:22). Ketika Paulus kembali ke Filipi pada perjalanannya yang ketiga, penulis meyertainya lagi (20:6) Ia pergi bersamanya ke daratan Asia, dan dari sana menemaninya ke Yerusalem.

Selama empat tahun masa Paulus di penjara, tidak tercatat kegiatan penulis, tetapi menjelang akhir dari masa itu ia meyertai Paulus ke Roma, dimana Paulus akan diadili di hadapan Kaisar.

Penulis adalah seorang pengkhotbah dan penginjil yang aktif. Ia adalah seorang penulis sejarah gereja dan seorang sastrawan pendukung agama kristen yang pertama. Karena ia adalah seorang rekan Paulus dapatlah dimengerti bila karyanya mencerminkan pengetahuan kristiani yang biasa digunakan untuk mengajar umat yang bukan Yahudi.

Penulis memiliki kemampuan menulis yang sangat tinggi, dan mungkin juga memiliki pendidikan yang tinggi. Bahasanya menunjukkan alam pikiran Yunani yang sangat tegas. Ia juga pengamat yang sangat cermat, menurut Paulus, Lukas adalah seorang dokter dan memang sering dikemukan bahwa penulis menunjukkan pengetahuan khusus tentang bahasa kedokteran, serta perhatian didalam melakukan diagnosa penyakit. Dalam surat Paulus kepada Jemaat di Kolose, Paulus mengungkapkan bahwa Lukas bukan orang Yahudi, jika Lukas penulisnya maka Lukas satu – satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi. Gaya bahasa Yunani tulisan – tulisan tersebut memang memberi kesan penulis mungkin seorang penututur asli bahasa Yunani.

Menurut tradisi Lukas adalah seorang seniman, Injil ini dinilai memiliki nilai sastra yang sangat tinggi. Hal ini dibuktikan lewat lagu atau puisi indah yang termuat dalam karyanya, diantaranya :

· Nyanyian Maria ketika mengunjungi saudaranya Elisabet (1:46-55)

· Nyanyian Zakharia saat kelahiran Yohanes Pembaptis (1:67-79)

· Nyanyian bala tentara surga saat kelahiran Yesus Kristus (2:14)

· Puji-pujian Simeon pada saat bayi Yesus diserahkan (2:28-32)

A.2 Tujuan Penulisan

Tulisan Lukas ini mungkin ditujukan pada seorang pria dari kalangan atas dan nama yang digunakan disini mungkin adalah nama baptisannya. Teofilus yang secara harafiah berarti “Kekasih Tuhan” atau “Dikasihi Tuhan”. Julukan yang mulia biasanya hanya dikenakan para pejabat pemerintah atau kaum bangsawan. Mungkin ia adalah seorang murid Lukas atau seorang pendukung yang bertugas menyebarluaskan karya Lukas. Selain itu Lukas juga bertujuan untuk menolong Teofilus dan orang lain agar memperoleh pengertian yang lebih baik tentang iman kristen.

Adapun tujuan Penulisan sebagai berikut :

· Membuat atau menulis catatan yang lengkap dan cermat tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus sampai Ia terangkat ke surga.

· Lukas yang diilhami Roh Kudus menginginkan agar Teofilus mengetahui

kebenaran yang tepat yang telah diajarkan kepada mereka secara lisan.

· Lukas menulis Yesus terlihat sebagai Juru Selamat bagi seluruh umat manusia.

A.3 Waktu dan Tempat Penulisan

Beberapa penulisan tidak dapat memastikan waktu yang tepat kapan Lukas menyelesaikan kitabnya, karena ia sendiri memasukkan dalam kitabnya sendiri bahan – bahan dari injil Markus. Ada dua batas waktu yang memperkirakan masa penulisan Injil Lukas yaitu sebelum Kisah Para Rasul dan setelah perkembangan agama Kristen. Mungkin Kisah Para Rasul ditulis sebelum akhir masa penahanan Paulus yang pertama di Roma atau kemungkinan lainnya injil ini ditulis setelah kematian Yesus, dan menurut kata pembukanya sudah banyak orang lain yang berusaha menyajikan Injil tentang fakta yang diyakini oleh kebanyakan masyarakat Kristen, mungkin tahun 60M dijadikan patokan karena saat itu Lukas menjadi orang Kristen. Bila ada yang memperkirakan tahun-tahun yang lebih kemudian pada Injil Lukas adalah berdasarkan anggapan penggunaan Injil Markus sebagai salah satu bahan. Tetapi kemiripan bentuk kedua injil ini dapat diterangkan karena kesamaan unsur pewartaan berita tentang Kristus dalam jemaat apostolik pada masa yang sama. Mungkin Lukas dan Markus pernah bertemu secara pribadi di Antiokhia ketika Yohanes Markus pertama-tama datang kekota ini bersama Barnabas dan Saulus. Meskipun tahun 60 tidak dapat ditatapkan secara pasti, namun dapat diterima kemungkinannya.

Belum ada petunjuk yang pasti tentang tempat penulisannya, mungkin ditulis diluar Palestina, meskipun ada kemungkinan ditulis di Kaisarea. Tidak ada tradisi yang pasti mengenai penulisan namun ia pasti ditulis disuatu tempat wilayah Hellenis oleh seorang yang bekerja diantara umat asing bukan Yahudi.

B. Tema Penulisan

Yesus, Juru Selamat yang Ilahi dan insani.

C. Isi Kitab Lukas

Materi Injil Lukas disusun dengan konsep utamanya Tuhan Yesus Kristus sebagai seorang manusia dan Tuhan melalui kuasa Roh Kudus. Dalam Lukas 2 : 11 Yesus dinyatakan sebagai Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan.

Dikatakan bahwa Lukas menyatakan Injil yang ditulis untuk memberikan kepastian batin kepada pembacanya. Lukas benar – benar menyajikan fakta – fakta dengan benar tepat seperti yang dikatakannya dan menyusunnya dengan teratur.

Catatan – catatan penting dalam Injil Lukas :

1. Kelahiran Yohanes Pembaptis ( 1:5-25;57-80 )

2. Kelahiran dan masa kecil Tuhan Yesus ( 1:26-56 ; 2:1-52 )

3. Silsilah Yesus ( 3:23-38 )

4. Pengajaran di Nazareth ( 4:16-30 )

5. Panggilan khusus pada Petrus ( 5: 8-10 )

6. Enam Mujizat ( 5:1-11; 7:11-17; 13:10-17; 14:1-6; 17:11-19; 22:49-51 )

7. Kesembilan belas perumpamaan

8. Pertemuan dengan Zakheus ( 19:1-10 )

9. Penghinaan Herodes kepada Yesus ( 23:8-12 )

10. Penampakan Yesus di Emaus ( 24:13-35 )

Hal hal diatas merupakan isi dari kitab Lukas yang juga ada di kitab Matius dan Markus. Lukas menceritakan persiapan kelahiran Yesus dari sudut pandangan Maria.

SilsilahNya diceritakan dari mulai Adam yang lebih mementingkan dari sisi kemanusiaan garis keturunanNya daripada garis kebangsawananNya.

Lukas menekankan adanya hubungan Tuhan Yesus dengan nubuat – nubuat dikitab suci. Ia menetapkan “Tahun Rahmat Tuhan” sebagai tujuan akhir pelayananNya.

Beberapa ayat yang hanya ada didalam kitab Lukas antara lain :

1. Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati ( 10:28-37 )

2. Orang kaya yang bodoh ( 12:13-21 )

3. Pohon Ara yang tidak berbuah (13:6-9)

4. Tempat duduk dalam pesta perkawinan ( 14:15-24 )

5. Dirham yang hilang ( 15:8-10 )

6. Anak yang terhilang ( 15:11-32 )

7. Bendahara yang tidak jujur ( 16:1-13 )

8. Orang kaya dan Lazarus ( 16:19-31 )

9. Perumpamaan tentang hakim yang tak benar (18:1-8)

10. Orang Farisi dan Pemungut Cukai ( 18: 9-14 )

Laporan Lukas dalam kisah sengsara Tuhan Yesus :

1. Laporan perjamuan malam terakhir ( 22:19-23 )

2. Penghiburan Yesus pada Simon Petrus ( 22:31-32)

3. Peristiwa peluh yang menyerupai darah ( 22:43-44)

4. Peristiwa dirumah Kayafas ( 22:63-71 )

5. Kehadiran Yesus dihadapan Herodes ( 23:4-16 )

6. Sapaan Yesus kepada Putri – putri Yerusalem ( 23:27-31 )

7. Penyesalan penjahat ( 23:39-43 )

Didalam cerita kebangkitan, Lukas menyimpulkannya dalam penampakan Yesus pada dua orang yang sedang berjalan ke Emaus. Kata penutup dalam Injil ini menghubungkan kenyataan sejarah dengan kebenaran tentang Kristus serta menunjukkan bahwa dalam Kristus berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan.

Hal lain yang diistimewakan Lukas ialah

· Perhatian kepada orang yang menderita, yang miskin, yang “hilang”, yang berdosa. Misalnya hanya Lukas yang menceritakan perumpamaan tentang dirham dan anak yang hilang (15:8-32).

· Hanya Lukas yang membuka bagi kita belas kasihan Yesus terhadap penjahat yang bertobat diatas kayu salib (23-40-43). Matius melewati peristiwa ini (Mat 27:38,44), malah kita mendapat kesan, seolah-olah keduanya hanya memaki Yesus.

Ada dua hal khusus yang perlu dikemukakan dalam Injil Lukas yaitu tekanan yang diletakkannya pada Roh dan Doa yang dapat dijelaskan sbb :

· Kehidupan Yesus dihidupkan oleh Roh, dikandung oleh Roh (1:35), dibaptis oleh Roh, ( 3:22 ), diuji oleh Roh ( 4:1 ), diurapi oleh Roh untuk menjalankan pelayananNya (4:14,18), dihibur oleh Roh ( 10:21 ).

· Murid-muridNya pun akan dipimpin oleh Roh Kudus(11:13).

· Tokoh-tokoh penting yang juga dipenuhi oleh Roh : Yohanes Pembaptis (1:15), Maria (1:35), Elisabeth (1:41), Zakharia (1:67), Simeon (2:25-26).

· Sesuai dengan ini sering dikatakan bahwa Yesus berdoa (Yoh 4:23) misalnya waktu Ia dibaptis (3:21), sebelum Ia memanggil kedua belas rasul (6:12).

· Ia Mendoakan murid-muridNya (22:32)

· Yesus menutup akhir hidupNya dengan seruan Doa (23:46)

Pada murid-murid Yesus timbul hasrat doa setelah melihat teladan Yesus (11:1dst) dan Yesus mengajak mereka untuk berdoa (18:1;22:40,46). Selain hal tersebut Injil Lukas juga menceritakan tentang perhatian khusus Yesus bagi bangsa-bangsa lain, bukan orang Samaria yang sangat dibenci oleh orang Yahudi lebih daripada mereka membenci orang Roma (4:16-30). Diseluruh kitab Injil Lukas, Yesus ditampilkan secara khas sebagai sahabat orang-orang yang dianggap rendah oleh masyarakat (9:51-56:10:25-37;17:11-19). Rasanya tidak ada kitab lain dalam seluruh Perjanjian Baru yang menggambarkan Yesus dengan begitu hidup sebagai sahabat dan juruselamat manusia. Dan memang itulah tujuan Lukas.

Dalam Injil ini Lukas memberikan perhatian khusus kepada golongan perempuan dan anak-anak, dibuktikan dengan :

· Kata “ Perempuan “ dapat kita temukan dalam Injil Lukas sebanyak 43 kali, berbeda dengan injil lain, dalam gabungan Matius & Markus hanya ditemukan sebanyak 49 kali. Watak ibu Yesus dibahas lebih lengkap, daripada di dalam Injil Matius.

· Tokoh anak-anak. Dalam Injil Lukas menulis tentang kelahiran serta masa anak-anak Yesus dan Yohanes untuk membahas cerita ini, Lukas mengkhususkan 3 pasal bagi mereka.

· Tiga kali Juga Lukas mencatat bahwa Yesus melakukan mujizat bagi seorang anak tunggal, antara lain :

1. Yesus membangkitkan anak muda di Naim ( 7:12 )

2. Yesus membangkitkan anak Yairus ( 8:42 )

3. Yesus mengusir roh dari seorang anak yang sakit ( 9:38 )

Menurut Willy Marxsen seorang teolog dari Jerman struktur injil Lukas amatlah menonjol. Setelah prakata (1 : 1-4), kisah pengantar ( 1 : 5 – 2 : 52 ) dan persiapan untuk pekerjaan Yesus ( 3 : 1 – 4 : 14 ) muncul tiga bagian besar lainnya :

a. Pekerjaan Yesus di Galilea ( 4 : 14 – 9 : 50 )

b. Pekerjaan Yesus ke Yerusalem ( 9 : 51 – 19 : 28 )

c. Yesus di Yerusalem ( 19 : 29 – 23 : 49 )

Dan dibagian penutupannya mengandung kisah tentang penguburan dan kisah-kisah yang berkaitan dengan paskah dan kenaikan ( 23 : 50 – 24 : 53 )

Lukas juga menambahkan suatu kelanjutan kisahnya yang dapat kita lihat dalam kitab kisah para rasul ( ayat.1 dan seterusnya ) yang menimbulkan perbedaannya dengan injil Matius dan Markus yang tidak ada kelanjutannya. Hal ini menerangkan bahwa injil Lukas dimaksudkan untuk dipahami sebagai bagian dari kisah sejarah yang dapat dipercayai.

D. Ciri-ciri

Ada delapan penekanan yang merupakan cirri-ciri Injil Lukas, diantaranya :

1. Injil ini adalah yang terlengkap catatannya mengenai peristiwa didalam kehidupan Yesus sejak menjelang kelahiran sampai kenaikan-Nya,dan juga kiab yang terpanjang dalam Pejanjian Baru.

2. Kitab ini mempunyai kesusastraan terbaik dari semua Injil, menunjukkan gaya penulisan dan isi yang luar biasa, kosa kata kaya dan penguasaan bahasa Yunani yang sangat baik.

3. Lukas mencantumkan cakupan universal dari Injl – bahwa Yesus datang untuk membawa keselamatan bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi.

4. Perhatian Yesus terhadap orang yang serba kekurangan ditekankan, termasuk para wanita, anak-anak orang miskin, dan kelompok yang dianggap sampah masyarakat.

5. Injil Lukas menekankan kehidpan doa Yesus dan pengajaranNya mengenai doa.

6. Gelar yang terutama untuk Yesus dalam kitab ini adalah “Anak Manusia”.

7. Tanggapan sukacita menandai mereka yang menerima Yesus dan BeritaNya.

8. Roh Kudus diberikan peranan terpenting dalam kehidupan Yesus dan UmatNya.

E. Penutup

Hasil keseluruhan dari Injil Lukas sangat tepat sesuai dengan tujuan yang telah dinyatakan diatas. Ceritanya yang begitu hidup telah diungkapkan dengan sangat baik, sehingga orang dapat melihat Yesus sebagai tokoh sejarah yang Nyata. Dalam Lukas 19:10 “ Sebab Anak Manusia, datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” digambarkan secara lengkap oleh Injil ini. Lukas menuliskan Yesus sebagai Anak Manusia, menunjukkan bagaiman Ia hidup diantara manusia, bagaimana Ia menilai mereka dan apa yang dilakukanNya bagi mereka. Rasanya Lukas begitu luar biasa menggambarkan Yesus yang begitu hidup sebagai Sahabat dan Juru selamat bagi umat manusia.

aku tak dapat erkata lebih kepada MU Bapa

October 6, 2008

Malam Tuhan,,

aku tak mengerti arti dari hidupku seluruhnya. saat aku berdiam di hadiratMu aku hanya bisa merasakan betapa Engkau sangat peduli terhadapku,, seringkali aku melupakanMu, namun Engkau selalu setia menopang setiap langkahku,,,

saat ini aku ingin memahami arti hadirku didalam dunia ini.. brikan aku kesabaran, ketabahan, dan kekuatan dalam menghadapi segala rintangan dalam idup ini.. Inilah hidupku Bapa aku persembahkan kusdus dihadapanMu,,,

Bapa ku yang baik,, malam ini aku memohon kepadaMu untuk menjaga keluargaku, aku tau aku tak akan lama bisa bersama mereka,, tapi tanganMu selalu ada utk hidup mereka,, Bapa hari semakin cepat berlalu,, aku tak tau lagi harus berbuat apa,, terkadang aku stak disetiap pemikiranku.. Bapa aku mohon kepadaMu berikan kami rumah yang baik untuk tempat tinggal kami, jangan biarkan kami mengalami kesusahan, tapi kami tau rencanaMu akan indah pada waktunya..

aku merindukan tanganMu yang lembut senantiasa menjamah keluargaku, jamah aku pun Bapa,,,

hari ini,, aku berdiam meohon kepadaMu agar Engkau memberkati hatiku,, berikan aku kesabaran dalam melihat masa depanku… Bapa hamba merindukan setiap pergumulan doaku tetang pasangan hidup, rencana kuliahku Engkau ijinkan baik adanya. Berikan melva pasangan yang taku akan Tuhan, tulus mengasihiku, melayanimu, dan aku mohon beri aku kesabaran dalam menghadapi orang disekelilingku,,,

aku hany bisa berjalan bersamaMu bapa.. hanya engkau yang bisa selalu menopangku.

Tuhan Yesus Kristus malam ini aku juga berdoa untuk teman2ku di kantor majlah info franchise.. berkati mereka TUhan dalam pekerjaan mereka. aku yakin Engkau selalu ada untuk mereka, buka hati mereka agar mereka bisa meraksakan betapa Engkau luar biasa dalam hidup mereka.

Bapa berikan aku suatu tempat yang baik utk dapat mengenal Engkau lebih lg

aku hanay ingin jam doaku dan jam pelayananku tidak terganggu bersamaMu… kuduskan pikiranku bapa, aku percaya pertolonganMu tepat pada waktunya.

ampuni semua dosa2ku tuhan.

Didalam nama Yesus.

Pertobatan dan Perubahan

September 19, 2008

PENATUA DALLIN H. OAKS
Dari Kuorum Dua Belas Rasul

Bertobat berarti meninggalkan semua kebiasaan—pribadi, keluarga, suku, dan bangsa kita—yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah.

 

 

I.

Saya akan mengawali dengan perka-taan yang diberikan oleh salah satu misionari yang berani ini. “Pada saat menengok kembali kehidupan saya,” dia berkata, “saya sulit membayangkan peselancar tanpa alas kaki dari Hawaii yang menyelesaikan misi ketiganya. Namun ketika saya merasakan pelukan hangat Juruselamat, saya ingin melayani-Nya, dan saya berubah.” Ya, dia benar-benar berubah! Stanley Y.Q. HO mengatakan kepada saya bahwa sampai dia berusia tiga puluh tahun, dia tidak melakukan apa-apa selain “bermain-main di pantai di Waikiki.” Kemudian dia menemukan Injil, dia menikah dengan seorang gadis Orang Suci Zaman Akhir, dan dia berubah. Sejak saat itu dia telah memenuhi banyak panggilan, termasuk sebagai uskup dan presiden wilayah. Sekarang, Elder Ho dan Mama terkasihnya, yang bertanggung jawab atas banyak perubahan dalam hidupnya, telah melayani tiga misi penuh-waktu.

Untuk contoh yang lain, saya akan membuka Injil Lukas:

“Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

Di situ ada seorang bernama

Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata, Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.

“Lalu Zakheus turun, dan menerima Yesus dengan sukacita” (Lukas 19:1-6).

Di sini Injil mencatat bahwa para pengikut Yesus “bersungut-sungut” karena kepergian-Nya ke rumah orang berdosa (ayat 7). Tetapi hal itu bukanlah masalah bagi Yesus. Injil-Nya adalah untuk semua yang mau meninggalkan kebiasaan lama dan membuat perubahan yang mereka perlukan untuk diselamatkan dalam kerajaan Allah.

Sekarang kita kembali pada kisah seorang pria yang membuka rumah dan hatinya untuk Tuhan:

“Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ‘Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan empat kali lipat.

Kata Yesus kepadanya: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini ….

Sebab anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (ayat 8-10).

Zakheus dari Yerikho dan Stanley dari Hawaii mewakili kita semua. Mereka adalah contoh tentang apa yang kita doakan supaya dapat dialami oleh semua orang yang memutuskan untuk menerima Tuhan “dengan sukacita” dan mengikuti tuntunan-Nya.

II.

Injil Yesus Kristus menantang kita untuk berubah. “Bertobatlah” adalah pesan yang paling sering diberikan, dan bertobat berarti meninggalkan semua kebiasaan—pribadi, keluarga, suku, dan bangsa kita—yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah. Tujuan dari Injil adalah untuk mengubah makhluk biasa menjadi warga selestial, dan itu memerlukan perubahan.

Yohanes Pembaptis mengabarkan pertobatan. Para pendengar-Nya datang dari kelompok yang berbeda, dan dia menyatakan perubahan yang harus dibuat oleh setiap orang untuk “hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Lukas 3:8). Para pemungut cukai, tentara, dan orang biasa—masing-masing memiliki adat istiadat yang harus dilepaskan untuk proses pertobatan.

Ajaran-ajaran Yesus juga menantang adat istiadat kelompok yang berbeda-beda. Ketika para ahli Taurat dan orang Farisi mengeluh karena muridmurid-Nya “melanggar adat istiadat nenek moyang” dengan tidak membasuh tangan dalam upacara keagamaan, Yesus menjawab bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi “melanggar perintah Allah demi adat istiadat [mereka]” (Matius 15:2-3). Dia menguraikan cara mereka membuat “firman Allah tidak berlaku demi adat istiadat [mereka]” (ayat 6). “Orang-orang munafik” begitu Allah menyebut mereka yang pengabdiannya kepada adat istiadat mencegah mereka untuk mematuhi perintah-perintah Allah (ayat 7).

Dan lagi, dalam wahyu modern, Tuhan menyatakan bahwa “yang jahat” mengambil anak-anak Allah yang tak berdosa dari terang dan kebenaran “melalui ketidakpatuhan … dan oleh sebab adat istiadat leluhur mereka” (A&P 93:39).

Adat istiadat atau budaya atau cara hidup seseorang tidak dapat dihindari bercampur dengan kebiasaan, yang harus diubah oleh mereka yang berharap menjadi layak untuk menerima berkat-berkat Allah yang paling tinggi.

Kemurnian Akhlak adalah contohnya. “Jangan berzina,” Tuhan memerintahkan dari Gunung Sinai (Keluaran 20:14) dan diulang dalam wahyu modern (A&P 42:24; lihat juga A&P 59:6). “Jauhkanlah dirimu dari percabulan” perintah Perjanjian Baru (1 Korintus 6:18; lihat juga Galatia 5:19; 1 Tesalonika 4:3). Nabi Allah selalu mengutuk pelacuran. Namun tetap saja perintah kekal ini sering kali tidak dihiraukan, dilawan, atau dicemooh oleh adat istiadat yang kuat di banyak negeri. Ini terlihat sekali saat ini, ketika film layar lebar, majalah, dan komunikasi Internet dari satu bangsa secara cepat dibagikan dengan banyak bangsa lainnya. Hubungan seks di luar pernikahan disahkan, dimaklumi atau didukung oleh banyak orang. Begitu juga dengan budaya pornografi yang meluas dengan pesat. Semua orang yang menjadi bagian dari budaya-budaya ini harus bertobat dan berubah jika mereka ingin menjadi umat Allah, karena Dia telah memperingatkan bahwa “tiada hal yang najis dapat memasuki kerajaan” (3 Nefi 27:19).

Kehadiran setiap minggu di gereja adalah contoh lain tentang perintah yang bertentangan dengan adat istiadat yang dikenal. Tuhan telah memerintahkan kita untuk hadir di gereja dan “mempersembahkan sakramen” pada hari Sabat-Nya (lihat A&P 59:9). Hal ini memerlukan lebih dari sekadar kehadiran pasif. Kita diperintahkan untuk berperan serta dalam peribadatan dan pelayanan, dan hal ini memerlukan perubahan besar bagi banyak orang yang bukan Kristen dan bahkan orang Kristen yang telah hadir di gereja hanya sebagai penonton yang tidak rutin datang.

Perintah Allah supaya kita menjauhi alkohol, tembakau, teh dan kopi (lihat A&P 89) juga bertentangan dengan banyak adat istiadat. Kecanduan atau kebiasaan lama tidak mudah dilanggar, namun perintah Allah jelas, dan berkat-berkat yang dijanjikan lebih dari sekadar membayar kembali tantangan perubahan itu.

Contoh lainnya adalah kejujuran. Beberapa budaya mengizinkan berbohong, mencuri, dan kebiasaan lainnya yang tidak jujur. Namun ketidakjujuran dalam bentuk apa pun juga—apakah itu untuk memenuhi tuntutan, untuk tidak dipermalukan, atau untuk memperoleh keuntungan—sangat bertentangan dengan perintah atau adat istiadat Injil. Allah adalah Allah kebenaran, dan Allah tidak berubah. Kitalah yang harus berubah. Dan itu akan menjadikan perubahan besar bagi semua orang yang adat istiadatnya membuat mereka terbiasa berfikir bahwa mereka dapat berbohong sedikit, menipu sedikit, atau terlibat dalam ketidakjujuran kapan saja ketika itu membawa keuntungan pribadi dan sepertinya tidak terlihat.

Adat istiadat duniawi yang kurang penting yang bertentangan dengan budaya Injil adalah gagasan kenaikan atau penurunan jabatan. Di dunia ini, kita merujuk pada naik atau turunnya promosi atau pengurangan. Namun tidak ada naik atau turun dalam jabatan Gereja. Kita hanya berputar. Seorang uskup yang dibebastugaskan oleh wewenang yang layak dan dipanggil untuk mengajar di Pratama, tidak turun jabatan. Dia menjadi maju ketika dia menerima pembebastugasannya dengan penuh syukur dan memenuhi tugas-tugas dalam pemanggilan baru itu—bahkan yang jauh tidak terlihat.

Saya melihat satu contoh yang tak terlupakan beberapa bulan yang lalu di Filipina. Saya mengunjungi sebuah lingkungan di wilayah Pasig, dekat kota Manila. Di sana saya bertemu dengan Augusto Lim, yang saya tahu beberapa tahun sebelumnya sebagai seorang presiden wilayah, presiden misi, Pembesar Umum, dan presiden bait suci Manila. Kemudian saya melihatnya melayani dengan rendah hati dan penuh syukur dalam keuskupan wilayahnya, sebagai penasihat kedua dari seorang pria yang jauh lebih muda dan memiliki pengalaman jauh lebih sedikit. Dari presiden bait suci sampai ke penasihat kedua dalam keuskupan wilayah merupakan contoh indah budaya Injil dalam tindakan.

Dalam contoh-contoh ini saya tidak membandingkan budaya atau adat istiadat salah satu bagian dunia dengan yang lainnya. Saya membandingkan cara Tuhan dengan cara dunia—budaya Injil Yesus Kristus dengan budaya atau adat istiadat setiap bangsa atau orang. Tak satu kelompok pun menguasai nilai atau memiliki kekebalan dari perintah untuk berubah. Yesus dan para Rasul-Nya tidak bermaksud membuat orang Yahudi menjadi orang Yunani (lihat Roma 2:11; Galatia 2:11-16; 3:1-29; 5:1-6; 6:15). Mereka mengajar orang Yahudi dan Yunani, dengan maksud membuat mereka masing-masing menjadi pengikut Kristus.

Sebagaimana halnya, para hamba Tuhan saat ini tidak bermaksud membuat orang Filipina menjadi orang Asia atau Afrika atau Amerika. Juruselamat mengundang kita semua untuk datang kepada-Nya (lihat 2 Nefi 26:33; A&P 43:20), dan hamba-Nya berusaha membujuk semua orang— termasuk orang-orang Amerika—untuk menjadi Orang-orang Suci Zaman Akhir. Kita mengatakan kepada semua orang, tinggalkan kebiasaan adat istiadat dan budaya Anda yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah dan budaya Injil-Nya, dan bergabunglah dengan umat-Nya dalam membangun kerajaan Allah. Jika kita berhenti berjalan dalam kegelapan, Rasul Yohanes mengajarkan, “kita hidup di dalam terang, … kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa” (1 Yohanes 1:7).

III.

Ada budaya Injil yang unik, sekumpulan nilai dan pengharapan serta tindakan yang tidak asing bagi anggota Gereja Yesus Kristus dari Orangorang Suci Zaman Akhir. Cara hidup Injil ini datang dari rencana keselamatan, perintah-perintah Allah, dan ajaran nabi-nabi yang hidup. Ini dinyatakan dengan cara kita meningkatkan keluarga kita dan menjalani kehidupan pribadi kita. Asas-asas yang dinyatakan dalam pernyataan keluarga merupakan sebuah ungkapan indah mengenai budaya Injil.

Mereka yang dibaptis dalam Gereja Yesus Kristus membuat perjanjian. Dalam wahyu modern Tuhan menyatakan, “Bila orang dipanggil pada InjilKu yang kekal, dan mengikat janji dengan suatu perjanjian yang abadi, mereka dianggap sebagai garam dunia dan kelezatan manusia” (A&P 101:39). Untuk melaksanakan tugas perjanjian kita sebagai garam dunia, kita harus berbeda dengan mereka yang ada di sekitar kita.

Seperti yang Yesus ajarkan: “Kujadikan kamu garam dunia, tetapi jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah bumi akan diasinkan? Oleh karena itu, garam tadi tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak-injak kaki orang” (3 Nefi 12:13; lihat juga Matius 5:13; A&P 101:40).

Ini mengharuskan kita membuat beberapa perubahan budaya keluarga kita, budaya suku kita, atau budaya bangsa kita. Kita harus mengubah semua elemen tindakan kita yang bertentangan dengan perintah-perintah, perjanjian, dan budaya Injil.

Rencana Injil didasarkan pada tanggung jawab pribadi. Pasal-pasal kepercayaan kita menyatakan kebenaran kekal “bahwa orang akan dihukum untuk dosanya sendiri dan bukan untuk pelanggaran Adam” (Pasal-pasal Kepercayaan 2). Syarat tanggung jawab pribadi ini, yang memiliki banyak pernyataan dalam ajaran kita, sangat bertentangan dengan rencana Setan untuk “menebus semua manusia sampai tidak satu jiwa pun yang akan hilang” (Musa 4:1). Rencana Bapa dan Juruselamat didasarkan pada pilihan pribadi dan usaha pribadi.

Ajaran dan pelaksanaan tanggung jawab pribadi dan usaha pribadi bertentangan dengan adat istiadat pribadi dan budaya setempat di banyak negeri. Kita hidup di dunia yang memiliki perbedaan besar dalam penghasilan dan kekayaan dan terdapat banyak usaha masyarakat dan pribadi untuk memperkecil perbedaan ini. Para pengikut Juruselamat diperintahkan untuk memberikan kepada yang miskin dan banyak yang melakukannya. Namun beberapa bantuan ini telah mendukung budaya ketergantungan, mengurangi kebutuhan penerimanya akan pangan dan papan, tetapi menjadikan mereka miskin akan kebutuhan kekal mereka untuk perkembangan pribadi. Perkembangan yang diminta dari rencana Injil hanya terjadi dalam budaya usaha dan tanggung jawab pribadi. Itu tidak dapat terjadi dalam budaya ketergantungan. Apa pun juga yang mengakibatkan kita menjadi bergantung pada orang lain dalam membuat keputusan atau dalam memperoleh sumber-sumber, yang sebenarnya dapat kita sediakan sendiri, akan melemahkan kita secara rohani dan memperlambat perkembangan kita terhadap tujuan rencana Injil bagi kita.

Injil mengentaskan kita dari kemiskinan dan ketergantungan, tetapi hanya ketika budaya Injil, termasuk pembayaran persepuluhan dengan setia bahkan oleh mereka yang miskin, berlaku dalam adat istiadat dan budaya ketergantungan. Itu adalah pelajaran dari anak-anak Israel, yang keluar dari ratusan tahun perbudakan di Mesir dan mengikuti seorang nabi menuju negeri mereka sendiri dan menjadi umat yang benar. Pelajaran itu dapat juga dipelajari dari para pionir Mormon, yang tidak pernah menggunakan kemalangan atau kemiskinan mereka sebagai suatu alasan, namun maju terus dalam iman, mengetahui bahwa Allah akan memberkati mereka ketika mereka mematuhi perintahperintah-Nya, dan Allah benar-benar memberkati mereka.

Perubahan yang kita buat untuk menjadi bagian dari budaya Injil memerlukan usaha yang lama dan kadang menyakitkan, dan perbedaan kita harus terlihat. Sebagai “garam dunia” kita juga “terang dunia” dan terang kita tidak boleh tersembunyi (lihat Matius 5:13-16). Rasul Yohanes memperingatkan bahwa hal ini akan membuat dunia membenci kita (lihat 1 Yohanes 3:13). Itulah sebabnya mereka yang telah membuat perjanjian untuk berubah memiliki tugas kudus untuk saling mengasihi dan membantu. Dukungan itu harus diberikan kepada setiap jiwa yang memiliki kesulitan untuk keluar dari budaya dunia dan masuk dalam budaya Injil Yesus Kristus. Rasul Yohanes menutup, “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18).

Tidak seorang pun menunjukkan kasih bagi sesama mereka lebih besar daripada para pria dan wanita yang mulia dari Gereja ini yang meninggalkan rumah dan lingkungan mereka yang nyaman untuk melayani sebagai misionari pasangan suami-istri. Mereka memberikan bantuan yang paling tulus dan paling berharga bagi orang-orang yang memiliki kesulitan untuk berubah. Allah memberkati para misionari pasangan suami-istri!

IV.

Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi, dan kita menunjukkan kasih itu dengan cara kita melayani satu sama lain. Kita juga diperintahkan untuk mengasihi Allah, dan kita menunjukkan kasih itu dengan secara terus-menerus bertobat dan mematuhi perintah-perintah-Nya (lihat 1 Yohanes 14:15). Dan pertobatan berarti lebih dari sekadar meninggalkan dosa-dosa kita. Dalam arti luas, pertobatan memerlukan perubahan, meninggalkan semua adat istiadat kita yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah. Pada saat kita ikut berperan serta dalam budaya Injil Yesus Kristus, kita menjadi “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggotaanggota keluarga Allah” (Efesus 2:19).

Saya bersaksi bahwa inilah yang Tuhan dan Juruselamat ingin agar kita lakukan supaya kita dapat menjadi seperti yang dimaksudkan Injil-Nya bagi kita, dalam nama Yesus Kristus, amin.

 

Nyayian syukur

July 26, 2008

Selamat pagi utk Bapaku yang sangat menyayangiku,,

Perbuatan yang besar tlah Engkau nyatakan dalam kehidupanku, sebelum aku bercerita kpadamu aku ingin mengumandangkan sebuah pujian utkMu Bapaku terkasih,,,

“Kau berikan, kesempatan utk belajar dari kesalahanku, dimasa yang telah lalu,,,,

Kau berikan kuiman utk mencoba lg, sampai ku jadi sempurna spertiMU,,,

meskipunku jatuh,,,, berulang kali, namun oleh kasihMU kubangkit kembali,,,

kutak dapat sungguh menyiayiakan,,, kepercayaanMU kepadaku TUHAN….”

Bapa setiap aku lemah, aku tau Engkau selalu hadir dekat denganku, menghiburku, dan inilah pujian syukurku, saat aku dekat denganMU Bapa…

“Saatku renungkan,

hidup bersamaMU,,

seringkali kumelupakanMU,

kuberjalan sendiri,

seakan kumampu,l

alui tanpa kekuatanMU,

smakin berat beban hidupku,,

smakin kumenjauh dariMU,,,

Namun ada cinta yang tak pernah berlalu,,

cinta yang kudapat dariMU,,

tlah teruji lalui rentangan sang waktu,,

KAU mati bagiku, berkorban untuk diriku,,,

Yesus kasihMu begitu sempurna didalam kehidupan anak-anakMU,,,”

 

Trima kasih TUhan untuk kesetiaanMU yang sangat mendalam.aku akan selalu percaya bahwa Engkau selalu setia menjaga hidupku,,, dan aku yakin Engkau akan membrikan kami sebuah rancangan yang damai sejahtera,,, hidupku indah didalamMU,,, perbuatanMu sungguh mulia,,,

Jalan Mu tak terselami,,

Oleh kuasa hati kami,,

Namun satu hal yang kupercaya,,

Ada rancangan yang indah,,

Tak terukur dalamnya kasihMU,,

hadir didalam hatiku,,

Akan slalu kupercayai,,,

Nyata didalam hidupku,,,

PerbuatanMU sempurna,

RancanganMU penuh damai,

Aman dan Sejahtera

Walau ditengah badai,,,

Inginku slalu bersama,, rasakan keindahan

Arti kehadiranMu Tuhan,,,

created By. Naomi Melva

Penolakan, Penyangkalan Dan Pengkhianatan

July 19, 2008

Menjelang kematian-Nya di kayu salib, Yesus masih harus menghadapi penolakan orang Yahudi (Yoh. 12:37), pengkhianatan Yudas (Yoh. 13:25), bahkan penyangkalan Petrus (Yoh. 13:38). Bukanlah suatu hal yang aneh jikalau peristiwa penolakan dan pengkhianatan dirangkaikan dengan kepedihan hati, sebagaimana dinyatakan dalam Yohanes 12:27 dan 13:21. Namun demikian, jika kita meneliti lebih lanjut, maka kepedihan hati Tuhan dengan sikap penolakan dan pengkhianatan, bukanlah sekedar suatu rangkaian yang lumrah. Mari kita telusuri kembali dengan singkat.

Penolakan dan pengkhianatan adalah merupakan suatu tindakan. Suatu tindakan yang tidak menghargai relasi dengan Yesus sekaligus dengan Allah (Yoh. 12:44-50). Ketika orang Yahudi menetapkan sikap menolak Yesus dengan ketidakpercayaan mereka, mereka bermaksud memutuskan relasi dengan Yesus, bahkan dengan orang-orang yang percaya kepada-Nya (Yoh. 12:42). Demikian pula ketika Yudas mengkhianati Yesus, ia meninggalkan Yesus dan rekan-rekan sepanggilannya untuk kemudian menjual gurunya (Yoh. 13:30). Keduanya mencerminkan tidak adanya lagi suatu percakapan, pergumulan dan penghargaan atas suatu relasi. Tindakan mereka seolah-olah memaksa Yesus untuk menerima keputusan mereka. Ketidakpercayaan orang Yahudi seolah-olah ingin meniadakan Yesus. Pengkhianatan Yudas seolah-olah bermaksud memaksa Yesus menuruti kemauannya, bahkan untuk mencapai maksudnya sendiri. Penolakan dan pengkhianatan seolah-olah bermaksud menjadikan Yesus pasif, tidak berdaya, dan akhirnya semata-mata menjadi korban. Bagaimana sikap Yesus kepada mereka?

Apakah semuanya ini kemudian menjadikan Yesus pasif, tidak berdaya dan kemudian masuk dalam kepedihan? Bagaimana pula sikap kita sebagai anak-anak-Nya menghadapi keaktifan orang berdosa atas kehidupan kita? Alkitab menegaskan bahwa kepedihan hati TUHAN bukanlah karena ketidakberdayaan dalam kepasifan, ataupun ketidakberdayaan menghadapi kejahatan manusia. Gema Kitab Nabi Yesaya menjelaskan hal ini (Yoh. 12:40). Demikian pula ketika Yesus menghadapi keaktifan Yudas yang mengkhianati-Nya, Yesus justru memberikan roti kepada Yudas dan berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Yesus tidak menjadi pasif dalam keaktifan kejahatan manusia. Ia aktif, sekaligus pedih! Inilah keajaiban pekerjaan Tuhan dalam dunia ini. Aktif tidak menjadikan arogan, seolah-olah semuanya hanya sekedar sandiwara dan kitalah sutradaranya. Pedih, bukan sekedar karena merasa menjadi korban kejahatan manusia dalam ketidakberdayaan. Inilah panggilan kita dalam jaman yang semakin rumit ini.

Bagaimana Yesus menghadapi penyangkalan Petrus? Penyangkalan Petrus membawa kepedihan tersendiri bagi Tuhan. Namun rangkaiannya berbeda dengan penolakan dan pengkhianatan. Antara Yesus dan Petrus masih ada percakapan. Petrus masih bergumul dengan Tuhannya. Petrus sangat menghargai dan memelihara relasi dirinya dengan Tuhannya (Yoh. 13:9, 37). Ketika suami-istri berselisih, ketika sesama jemaat berselisih, ketika orang tua-anak berselisih, marilah kita meletakkannya dalam pergumulan dan percakapan dalam persekutuan yang telah dianugerahkan Tuhan bagi kita. Ketika kita sukar memahami pimpinan Tuhan, ketika kita tersesat, kembalilah bergumul dalam persekutuan dengan-Nya. Jangan biarkan ‘percakapan’ kita dengan Tuhan tersingkirkan oleh berbagai percobaan dan kelemahan diri kita. Itulah sebabnya TUHAN menegaskan kembali hukum yang baru, yaitu kasih – menjadi ciri kehidupan murid sebagaimana Yesus mengasihi kita, bahkan sampai pada kesudahannya (Yoh. 13:1, sebagai pembukaan pasal 13). Kepedihan karena kasih sangat diperlukan. Kepedihan karena kita menghargai relasi kita dengan Tuhan harus kita pelihara. Kepedihan yang mendorong kita semakin lama semakin mengalami kelimpahan kasih-Nya dalam persekutuan kita satu dengan yang lain.

25 Desember

July 19, 2008

Dua Puluh Lima Desember
Tanpa terasa satu bilangan tahun lagi hampir kita lewati dan masukkan dalam gudang kenangan. Berbagai pergumulan dan sejumlah anugerah telah kita nikmati. Tahun yang baru telah siap menyambut kita dengan segala kerumitan dan kebahagiaan di dalamnya. Memasuki bulan Desember, segenap orang Kristen dan gereja sibuk mempersiapkan diri untuk memperingati hari Natal. Sejauh manakah kita mengenal akan tanggal yang selalu diperingati sebagai hari Natal itu?

Tahun Kelahiran Yesus

Kita dan penanggalan internasional setiap tahun selalu menempatkan hari Natal pada tanggal 25 bulan Desember, dan menceritakan kepada anak Sekolah Minggu kita itulah tanggal kelahiran Yesus. Sebagian orang (termasuk salah satu media massa yang terbit di Jakarta baru-baru ini), dengan pemikiran kalau dalam bahasa Inggris ada sebutan ‘Before Christ (B.C.)’ atau ‘Sebelum Masehi (S.M.)’ untuk menyebut tahun-tahun sebelum kelahiran Yesus dan ‘Anno Domini (A.D.)’ atau ‘Masehi (M)’ untuk tahun sesudahnya, maka mereka menganggap Yesus lahir tepat pada tahun 0 Masehi. Padahal sebenarnya tahun 0 Sebelum Masehi dan/atau tahun 0 Masehi itu tidak pernah ada. Jadi kalau begitu, tahun berapakah Yesus lahir? Sebagian orang yang lain berpegang bahwa tahun 4 Sebelum Masehi adalah tahun kelahiran Yesus. Mengapa bisa begitu? Bukankah digunakannya tahun ‘Masehi’ adalah untuk memisahkan tahun sebelum dan sesudah kelahiran Yesus?

Menurut catatan Flavius Josephus, seorang ahli sejarah yang hidup pada tahun 37-100 Masehi (jadi tidak terlalu jauh dari masa kehidupan Yesus), dapat diketahui bahwa Herodes yang disebutkan dalam Matius 2:1 “………. pada jaman Raja Herodes ……” adalah Herodes Agung, yang hidup dari tahun 73-4 Sebelum Masehi. Raja Herodes inilah yang menyebabkan Yesus diungsikan ke Mesir. Baru setelah kematiannya, Yesus kembali dari pengungsian (lihat Matius 2:19-20). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa Yesus dilahirkan sekurang-kurangnya beberapa tahun atau bulan sebelum 4 S.M. Dan menurut dugaan yang lazim, kelahiran Yesus adalah antara tahun 8 dan tahun 5 s.M.

Benarkah Yesus Lahir Tahun 5 s.M.?

Pada jaman itu, tahun dalam kekaisaran Romawi dihitung dari tahun berdirinya kota Roma. Tahun Romawi disebut AUC, singkatan dari Ab Urbe Condita, yang berarti ‘sejak berdirinya kota’. Kemudian pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Justinian, seorang rahib bernama Dionisius Exigius membuat kalender baru. Ia mengganti perhitungan tahun Romawi dengan tahun Masehi, yang dimulai dari kelahiran Yesus. Tetapi di kemudian hari barulah diketahui bahwa ia membuat kekeliruan hitung. Ia menempatkan kelahiran Yesus pada tahun 753 AUC, padahal seharusnya pada tahun 749 atau 747 AUC. Kekeliruan ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dan sampai sekarang kita pun sudah terlanjur menggunakan tahun hasil perhitungan Dionisius itu, yang sebetulnya empat atau lima tahun terlambat dari kenyataan kelahiran Yesus.

Lalu Bagaimana dengan Bulan Kelahiran-Nya?

Apabila kita melihat di peta, maka kita akan menemukan bahwa Israel terletak di sebelah utara garis khatulistiwa, hampir sejajar dengan Jepang, yang berarti bulan Desember adalah musim dingin. Bagaimana dengan catatan Injil yang menjelaskan tentang para gembala pada malam kelahiran Yesus dalam Lukas 2:8 “….gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”? Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus pasti bukanlah pada bulan Desember.

Seseorang bernama Klemens dari Alexandria membuat perhitungan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon, yaitu tanggal 20 Mei. Tetapi itu pun bukan merupakan suatu kepastian.

Mengapa Kita Tidak Punya Tanggal Kelahiran Yesus yang Pasti?

Pada jaman itu, merayakan ulang tahun hanyalah kelaziman orang kafir. Satu-satunya ulang tahun yang kita baca di Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (lihat Matius 14:6). Dan gereja pada jaman itu tidak merayakan kelahiran Yesus melainkan kebangkitan-Nya. Baru sekitar abad ke-3, umat Kristen di Mesir mulai merayakan Natal. Tanggal yang digunakan adalah 6 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum.

Gereja di Roma baru mulai merayakan Natal pada akhir abad ke-4, dan tanggal yang dipilih adalah 25 Desember. Pemilihan tanggal tersebut adalah untuk memberi isi yang baru kepada perayaan kafir yang menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Tidak lama kemudian kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember itu pun ditiru oleh gereja-gereja di tempat lain. Dan hingga sekarang, Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember oleh hampir semua gereja.

Anak Sekolah Minggu yang kritis mungkin akan bertanya: Jika demikian kenapa kita tidak menghitung ulang atau mengikuti perhitungan Klemens, yaitu merayakan Natal pada tanggal 20 Mei saja?

Dengan segala kerendahhatian dan tidak ada maksud untuk menggurui, berikut adalah beberapa hal yang saya bisa bagikan dan barangkali bisa dijadikan contoh jawaban atas pertanyaan semacam itu:
Perhitungan Klemens menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 20 Mei, namun itu pun belum pasti benar. Kenapa kita harus menggunakan tanggal yang kebenarannyapun masih diragukan?

Secara umum, sudah berlangsung selama berabad-abad, Natal dirayakan pada bulan Desember, tepatnya pada tanggal 25 Desember, kenapa kita harus menetapkan tanggal perayaan sendiri, yang lain daripada yang lain?

Kekeliruan perhitungan ini pastilah ada campur tangan dan atas ijin Allah, karena hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak mengijinkan orang untuk lebih mengutamakan atau lebih tepatnya mengkeramatkan tanggal tertentu lebih daripada yang lain; yang akhirnya justru akan melupakan bahwa rahmat, kasih dan anugerah-Nya selalu baru dan terlimpah setiap hari. Sebagai perbandingan kita dapat melihat bahwa peringatan akan Kematian Kristus atau Paskah, bukan ditentukan oleh tanggal tertentu tetapi oleh hari.

Atau perhitungan satu hari yang kita pakai sekarang, yaitu pagi-malam, yang berubah dari catatan perhitungan satu hari yang Allah berikan (lihat Kejadian 1:5, 8, 13, dst “… jadilah petang, jadilah pagi, itulah hari ….”)

Bukankah kenyataannya selama ini juga sudah berlangsung, bahwa banyak gereja yang melaksanakan perayaan Natal tidak tepat pada tanggal 25 Desember?

Kesalahan tanggal dalam merayakan hari Natal, tidak akan berpengaruh terhadap iman kepercayaan dan keselamatan kita.
Yang lebih utama dan terutama harus dipikirkan, ditekankan dan diajarkan dalam perayaan Natal adalah hadiah atau komitmen apa yang akan kita berikan sebagai persembahan kepada Kristus, pada saat kita memperingati hari kelahiran-Nya?

Jadi sekarang kreatifitas guru dan waktu (usia) yang tepat diperlukan untuk mengajarkan hal ini kepada anak-anak Sekolah Minggu, agar tidak membuat mereka justru menjadi bingung dan akhirnya kehilangan arti/makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Kristus ke dunia ini.

Hidup karena berpaling

July 19, 2008

Hidup Karena Berpaling
Charles Haddon Spurgeon

Walaupun mengetahui bahwa ayah dan kakeknya adalah pendeta-pendeta Inggris yang terkenal, hal ini tidak banyak menolong Charles yang berusia lima belas tahun, yang mempunyai banyak kesusahan itu.

“Saya kira dosa saya lebih besar daripada dosa orang lain,” keluhnya. “Saya menangis memohon pengampunan kepada Allah, tetapi saya takut Ia tidak akan mengampuni saya.”

Pada waktu bersekolah di Colchester, Charles yang muda itu berjanji, “Saya akan menghadiri setiap gereja di kota ini untuk mengetahui bagaimana menjadi seorang Kristen.”

Ia mendengar sebuah kotbah yang diambil dari Galatia 6:7, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” Tetapi pengkhotbah itu tidak mengatakan bagaimana caranya ia dapat menghindari tipuan. Setelah enam bulan mengunjungi setiap gereja yang dapat ia temui, ia merasa hampir putus asa.

Kemudian tibalah tanggal 6 Januari di tahun 1850 yang dingin dan bersalju. Dengan patuh Charles pergi menghadiri gereja yang telah dipilihnya. Pada saat ia berjalan, hatinya merasa lebih dingin daripada salju yang turun itu. Ketika ia tahu bahwa badai yang dahsyat akan menahannya untuk dapat mencapai tujuannya, ia membelok ke sebuah gereja kecil yang tak dikenal, yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya.
Pertama-tama ia ragu-ragu memasuki Gereja Metodis Sederhana di Artilery Street itu. Di kemudian hari Ia berkata, “Saya telah mendengar bahwa orang-orang itu menyanyi begitu keras, sehingga membuat orang menjadi pusing.”

Tetapi Charles Spurgeon menyelinap masuk dan duduk. Setelah beberapa menit dalam kesunyian yang menyiksa, seorang pria yang tinggi kurus berjalan dengan terseret-seret ke mimbar. “Rupanya pendeta kita terhalang oleh cuaca,” ia menjelaskan, “saya kira Saudara-saudara sekalian harus tahan mendengarkan saya.”

“Sekarang saya akan membaca sebuah ayat seperti apa yang dilakukan oleh pengkhotbah-pengkhotbah lain,” pria yang sederhana itu melanjutkan. “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!” (Yesaya 45:22). Sambil duduk di bangku gereja, Charles mengernyitkan dahinya dan berpikir, “Mengapa ia tidak dapat mengucapkan kata-katanya dengan sepatutnya?”

Di mimbar, pengkhotbah pengganti itu mulai menceritakan ayat itu berputar-putar, karena ia tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. “Ayat ini mengatakan, “Berpalinglah,” ia berbicara dengan cara yang membosankan. “Nah, dengan berpaling itu, Saudara tidak akan merasa sakit sedikitpun. Tidak perlu pula mengangkat kaki atau jari Saudara; hanya ‘Berpaling’!

“Nah, beberapa di antara Saudara sekalian berpaling kepada diri sendiri, tetapi tidak ada gunanya berpaling ke situ. Saudara mungkin mengatakan, ‘Tunggulah Roh Kudus bekerja.’ Tetapi saya katakan, berpalinglah kepada Kristus!”

Mata beberapa pendengar yang bosan itu mulai melihat ke sana ke mari, tetapi mata Charles Spurgeon tidak. Ia menatap pengkhotbah yang kurang pengetahuan itu seolah-olah berkata, “Mengapa saya tidak memikirkan ini sebelumnya?”

Pada saat pengkhotbah itu mengulur-ulur ayatnya, ia mulai berteriak, “Berpalinglah kepada-Ku, ‘Aku berpeluhkan darah; Aku tergantung di salib.’” Kemudian pria yang tinggi itu melihat wajah Charles yang tegang.

“Anak Muda, kamu tampak sedih,” teriaknya pada saat anak laki-laki itu menggeser satu inci ke bawah di tempat duduknya yang tidak enak itu. Kemudian ia mengangkat tangannya serta berteriak dengan gaya Metodis yang sederhana, “Anak Muda, berpalinglah kepada Yesus Kristus. Berpalinglah! Berpalinglah!”

Charles kemudian memberikan kesaksian, “Aku segera melihat jalan keselamatan itu. Aku melihat sampai benar-benar berpaling kepada Kristus. Kegelapan hilang lenyap dan aku melihat matahari. Aku merasa dapat meloncat dari tempat dudukku dan berteriak sekeras-kerasnya bersama dengan saudara-saudara Metodis ini, ‘Aku diampuni!’.”
“Oh, betapa ingin aku melakukan sesuatu bagi Kristus,” Charles menulis kepada ibunya setelah ia pulang ke rumah. Dalam seminggu ia telah berbuat sesuatu. Pertama-tama ia membagikan traktat; kemudian ketika persediaan traktatnya habis, ia menulis di atas carik-carik kertas dan menjatuhkannya di jalan dengan harapan agar seseorang dapat tertolong jiwanya.

Ia mulai mengajar Sekolah Minggu pada usia enam belas tahun dan setahun kemudian dipanggil sebagai gembala jemaat di gereja kecil Waterbeach Chapel. Kemudian ia pindah ke London, ke gereja yang lebih besar; Sebelum ia berumur dua puluh satu tahun, ia diberi julukan ‘Anak Ajaib dari Inggris.’ Pada usia dua puluh tiga tahun, ia berkhotbah kepada tepatnya 23.645 orang dalam suatu kebaktian. Gerejanya membangun gereja Metropolitan Tabernacle yang mempunyai tempat duduk yang bisa memuat lima ribu lima ratus orang. Ia mendirikan sebuah perguruan tinggi bagi para pengkhotbah, sebuah panti asuhan dan bahkan menerbitkan sebuah surat kabar Injil. Khotbah-khotbahnya diterbitkan oleh surat kabar Amerika. Dan sampai sekarang – seratus tahun kemudian – masih banyak orang percaya bahwa Charles Haddon Spurgeon adalah pengkhotbah terbesar sejak Rasul Paulus.

Pada tahun 1864, Spurgeon kembali mengunjungi gereja di Artilery Street. Ia berkhotbah dari Yesaya 45:22, ayat yang menyebabkan dia bertobat. Sambil menunjuk ke sebuah tempat duduk di bawah balkon, ia berkata, “Saya pernah duduk di bangku itu.”
Identitas sebenarnya pengkhotbah pengganti yang tinggi kurus itu masih menjadi teka-teki. Pengkhotbah itu tidak pernah maju ke muka untuk menyatakan bahwa ia menyampaikan khotbah yang mendorong Spurgeon yang terkenal itu untuk berpaling kepada Kristus.

Pelayanan

July 19, 2008

Pada waktu kita melihat jaman dalam konteks pelayanan kita, dapat dikatakan bahwa jaman ini adalah jaman yang selalu berubah, tidak sama dengan jaman yang dahulu maupun yang berikutnya. Suatu jaman selalu mempunyai tanda, semangat dan warna tersendiri yang berbeda dari jaman sebelumnya. Memang, pada waktu kita melihat jaman dalam kehidupan, kita lihat adanya suatu culture yang sebenarnya berubah secara drastis. Di dalam hal ini juga, generasi Saudara adalah suatu generasi yang sangat unik, karena kita berada dalam satu peralihan dari suatu culture, dan mungkin kita sendiri, selama melaluinya, tidak menyadarinya. Dalam jaman kehidupan Saudara ini, Saudara merupakan saksi dari berlangsungnya suatu jaman dan juga berakhirnya suatu jaman, masuk menjadi jaman yang baru.

Jaman pertama adalah jaman modern. Jaman kedua adalah jaman postmodern atau pasca-modern. Secara unik, Saudara berada dalam tengah peralihan suatu jaman. Hal ini merupakan suatu yang sangat besar dalam sejarah, karena sejarah pemikiran modern sudah berlangsung selamai 200 tahun. Saudara berada dalam perbatasan akhir dari jaman modern dan akan melangkah dalam suatu jaman yang baru, yaitu jaman postmodern.

Tetapi, kita perhatikan, jaman adalah jaman yang berubah, mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Tetapi bagaimana dengan pelayanan gereja kita? Seringkali kita melihat bahwa pelayanan kita justru tidak berubah dari waktu ke waktu. Jaman terus berubah, tetapi pelayanan kita sebagai orang Kristen tidak mengalami perubahan yang berarti. Sehingga gereja sangat lambat dan tidak peka dalam mengantisipasi semangat jaman yang berubah. Kita tidak memperhatikan persoalan itu.

Ada kata-kata yang menyindir orang-orang pada jaman ini: if you are not confuse, you probably don’t know what is happening; Jikalau kamu tidak bingung, mungkin kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jika Saudara tidak bingung melihat semangat, dan apa yang sedang berlangsung pada jaman ini, tidak berarti bahwa Saudara melihat/memperhatikan jaman ini, melainkan Saudara tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Pada waktu kita melayani, kita tidak menyadari bahwa jaman sudah berubah, sehingga pelayanan kita semakin lama semakin menurun. Dalam kesempatan sharing antar-gereja nanti*, kita bisa share satu sama lain mengenai pelayanan gereja kita. Mungkin sebagian gereja mengalami penurunan, sebagian gereja mengalami kemajuan. Kita akan melihat faktor-faktornya.

Kalau pelayanan kita menjadi sesuatu yang menurun, maka ini harus membuat kita berpikir: Kenapa orang-orang tidak datang ke persekutuan pemuda? Apa yang harus kita lakukan? Pada akhirnya, yang kita lakukan untuk pelayanan kita adalah bersaing dengan dunia. Bagaimana bersaing dengan dunia? Misalnya: dunia mempunyai bioskop, maka kita juga membuat pertunjukan film. Tetapi bedanya kalau bioskop dapat menarik banyak orang, tetapi film yang kita putar, misalnya Jesus in Campus Crusade, maka seluruh jalan cerita film itu sudah dapat ditebak, sehingga membuat orang lain merasa lebih baik nonton di bioskop.

Jadi apa yang kita lakukan di komisi pemuda adalah bersaing dengan dunia. Mungkin satu saat Saudara berhasil dengan membuat suatu acara yang sangat menarik, misalnya membuat suatu pertunjukan kejutan.

Dari semua acara yang menarik itu, pasti ada acara yang kurang menarik, dan ada acara yang lebih menarik dari acara-acara menarik yang lainnya. Hal itu membuat kita mati-matian dengan tak habis-habisnya berpikir bagaimana membuat suatu acara yang lebih menarik dari acara yang sebelumnya, yang sudah menarik itu. Maka akhirnya, kita tidak akan mampu dan tidak mungkin bekerja sepenuh hidup kita hanyak untuk acara komisi pemuda itu. Akhirnya kita terpuruk pada kesulitan pelayanan. Semakin lama semakin lemah, dan akhirnya persekutuan pemuda kita juga semakin lama semakin merosot.
Dalam keadaan seperti demikian, apa yang harus kita lakukan?

Ada satu hal yang harus kita lakukan, yaitu: KEMBALI KE DASAR, back to basics. Kita tidak mungkin bersaing dengan entertainment yang ditawarkan oleh dunia, maka kita harus kembali kepada apa yang Tuhan ingin kita lakukan di dalam kehidupan. Kita harus kembali kepada hal tersebut.

Kita lihat di Pengkotbah 1:4-8. Kita melihat bahwa Pengkotbah memperhatikan hidup manusia hanya sekedar sebagai lingkaran, yang saya istilahkan, lingkaran kesia-siaan.
Semua perputaran dalam alam itulah yang dilihat oleh Pengkotbah sebagai suatu lingkaran kesia-siaan. Dalam ayat 8 dikatakan segala sesuatu menjemukan, karena Pengkotbah melihat segala sesuatu adalah pengulangan dari apa yang pernah terjadi, meskipun tidak selalu persis, tetapi ada a continual beginning, suatu permulaan yang sama terus-menerus, sehingga menjadi suatu lingkaran kesia-siaan.

Manusia dalam proses kehidupannya, dari lahir hingga ia meninggal, kemudian diteruskan ke generasi berikutnya, tidak pernah dapat terlepas dari pola pengulangan yang sama, yang dikatakan Pengkotbah sebagai lingkaran yang menjemukan. Satu-satunya jalan untuk menerobos lingkaran kesia-sian ini adalah dengan melakukan Linearisasi Kehidupan. Artinya di dalam kehidupan, kita tidak hanya berjalan mengikuti lingkaran-lingkaran dalam kehidupan, tapi kita juga berjalan menuju ke sebuah tujuan yang ingin kita capai, dan tujuan yang ingin kita capai adalah CHRIST-LIKENESS, menjadi serupa dengan Kristus. Inilah tujuan utama dari kehidupan orang Kristen dalam suatu lingkaran kehidupannya, dimana ia telah berjumpa dengan Kristus (Roma 8:29). Itulah yang seharusnya menjadi tujuan setiap pribadi yang telah ditebus.

Berubah menurut kehendak Allah

July 19, 2008

“JANGANLAH kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Rm.12:2).

Secara alamiah manusia dari waktu ke waktu mengalami perubahan: dulu rambut hitam legam, kini hitam putih; dulu remaja, sekarang menjadi pemuda (dulu muda kini telah tua). Tentu saja ada perubahan yang memerlukan rekayasa dari diri kita: dulu malas sekarang rajin; dulu sombong kini rendah hati. Perubahan yang direkayasa ini menuju kepada yang baik, berkenan kepada Allah, dan yang mengarah kepada kesempurnaan. Surat Roma pasal dua belas mencatat hal-hal yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Mari perhatikan beberapa di antaranya.

Pertama, Allah memberikan kepada kita karunia yang berlain-lainan (karunia bernubuat, karunia melayani, karunia mengajar), menurut kasih karunia-Nya. Karunia yang berbeda itu untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menonjolkan diri. Semua karunia itu diberikan oleh Allah yang satu dan yang sama, dan dengan demikian semuanya tentu mulia dan berharga.

Mungkin saja ada umat yang merasa karunia yang dimilikinya lebih “hebat” dibandingkan dengan yang lain, eksklusif, bukan karunia “pasaran” (karunia menyembuhkan dianggap lebih hebat dibandingkan dengan karunia menasihati. Banyak orang bisa memberikan nasihat, tapi berapa yang dapat menyembuhkan). Pemikiran seperti ini mesti diubah karena kurang berkenan kepada Allah.

Hal lain yang Paulus katakan kepada jemaat Roma: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”(Rm.12:11). Paulus mengamati bahwa sebagian umat semangat pelayanannya mulai kelap-kelip, hampir padam. Mereka melayani sepertinya asal-asalan, kata mereka: “rajin atau tidak rajin honornya sama saja. Kalau begitu untuk apa rajin?” Mereka lupa, bahwa Allahlah yang dilayani, bukan manusia!

Paulus tidak hanya berbicara, namun ia lakukan. Saat usianya sudah tua, dan dalam keadaan di penjara, ia tetap memberitakan Kabar Baik kepada Onesimus (Flm.1:9-10). Semangat pelayanannya tetap berkobar-kobar walau umur telah lanjut. Kita masih ingat, bagaimana Paulus ingin pergi ke Spanyol karena: “aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini’” (Rm.15:23). Setiap umat perlu membaharui semangat pelayanannya supaya berkenan kepada Allah.

Lebih lanjut Paulus berkata kepada jemaat Roma: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”(Rm.12:15). Hal yang senada ia katakan kepada umat di Korintus: “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”(I Kor.12:26). Ada kalanya dalam kehidupan bermasyarakat hal di atas tidak nampak, bahkan terbalik.

Sering kita bersukacita bila “pihak lain” mengalami kegagalan (rumah tangganya pecah, usahanya bangkrut, anaknya kena narkoba); dan bersedih bila umat lain beroleh keberhasilan (mendapat undian mobil BMW, mendapat beasiswa S-2 di Jepang). Acapkali kita mendengar bahwa olahragawan/ti semestinya memiliki sikap sportif. Faktanya bisa berbeda. Muncul kekecewaan saat rekor seseorang dipecahkan oleh pihak lain; sukacita timbul waktu tendangan penalti pihak lawan gagal membuahkan gol. Kita perlu merenungkan, manakah yang baik, yang berkenan kepada Allah (bukan yang menyenangkan diri kita sendiri).

Hal yang tidak kalah penting: “Kalahkan kejahatan dengan kebaikan!”(Rm.12:21). Saat kita memiliki kasih (agape) maka kita melakukan hal yang berkenan kepada Allah: muncullah pengampunan, melupakan kesalahan orang lain, dan berbuat kebaikan kepada siapa saja (entah kawan maupun lawan). Apakah kita siap untuk berubah kearah ini sekarang? Atau kapan-kapan?**

Ingin berhenti merokok? baca !

July 19, 2008

Stop Rokok 12 Jam Dijamin Sehat!

Bagi pecandu rokok, menghentikan kebiasaan merokok merupakan hal yang sulit. Namun ternyata, tubuh akan memperbaiki sistemnya ketika seseorang mulai berhenti merokok selama 12 jam.

Perasaan buruk akan terasa di awal, namun pada saat itulah proses penyembuhan kerusakaan akibat rokok dimulai. Karbon monoksida dan kandungan nikotin dalam tubuh akan hilang secara perlahan. Kandungan berbahaya tersebut akan hilang sama sekali dalam waktu 2-3 hari setelah berhenti merokok. Pada saat itu akan timbul perasaan tak tenang serta emosi yang tidak stabil. Rasa lapar, serta keletihan yang berlebihan bahkan kesulitan tidur pun terasa. Gejala tersebut menandakan bahwa tubuh sedang membersihkan sisa-sisa nikotin yang ada.

Dalam 2-3 minggu sejak berhenti merokok sirkulasi tubuh akan mulai memperbaiki kerusakan pada paru-paru. Dalam jangka waktu 1-9 bulan, batuk-batuk dan nafas pendek akan menghilang. Paru-paru mulai bersih dan fungsinya kembali normal.

Gejala-gejala seperti depresi, frustasi dan sakit kepala juga akan melanda pada awal proses penyembuhan. Namun hasilnya, Anda akan terbebas dari risiko kanker, jantung, kemandulan dan kerusakan paru-paru. Dengan sedikit kesabaran dan niat yang keras, Anda akan mendapatkan kualitas kesehatan yang luar biasa. Masih berpikiran untuk menjadi pecandu rokok?