RSS

Monthly Archives: July 2008

Nyayian syukur

Selamat pagi utk Bapaku yang sangat menyayangiku,,

Perbuatan yang besar tlah Engkau nyatakan dalam kehidupanku, sebelum aku bercerita kpadamu aku ingin mengumandangkan sebuah pujian utkMu Bapaku terkasih,,,

“Kau berikan, kesempatan utk belajar dari kesalahanku, dimasa yang telah lalu,,,,

Kau berikan kuiman utk mencoba lg, sampai ku jadi sempurna spertiMU,,,

meskipunku jatuh,,,, berulang kali, namun oleh kasihMU kubangkit kembali,,,

kutak dapat sungguh menyiayiakan,,, kepercayaanMU kepadaku TUHAN….”

Bapa setiap aku lemah, aku tau Engkau selalu hadir dekat denganku, menghiburku, dan inilah pujian syukurku, saat aku dekat denganMU Bapa…

“Saatku renungkan,

hidup bersamaMU,,

seringkali kumelupakanMU,

kuberjalan sendiri,

seakan kumampu,l

alui tanpa kekuatanMU,

smakin berat beban hidupku,,

smakin kumenjauh dariMU,,,

Namun ada cinta yang tak pernah berlalu,,

cinta yang kudapat dariMU,,

tlah teruji lalui rentangan sang waktu,,

KAU mati bagiku, berkorban untuk diriku,,,

Yesus kasihMu begitu sempurna didalam kehidupan anak-anakMU,,,”

 

Trima kasih TUhan untuk kesetiaanMU yang sangat mendalam.aku akan selalu percaya bahwa Engkau selalu setia menjaga hidupku,,, dan aku yakin Engkau akan membrikan kami sebuah rancangan yang damai sejahtera,,, hidupku indah didalamMU,,, perbuatanMu sungguh mulia,,,

Jalan Mu tak terselami,,

Oleh kuasa hati kami,,

Namun satu hal yang kupercaya,,

Ada rancangan yang indah,,

Tak terukur dalamnya kasihMU,,

hadir didalam hatiku,,

Akan slalu kupercayai,,,

Nyata didalam hidupku,,,

PerbuatanMU sempurna,

RancanganMU penuh damai,

Aman dan Sejahtera

Walau ditengah badai,,,

Inginku slalu bersama,, rasakan keindahan

Arti kehadiranMu Tuhan,,,

created By. Naomi Melva

 
Leave a comment

Posted by on July 26, 2008 in Uncategorized

 

Penolakan, Penyangkalan Dan Pengkhianatan

Menjelang kematian-Nya di kayu salib, Yesus masih harus menghadapi penolakan orang Yahudi (Yoh. 12:37), pengkhianatan Yudas (Yoh. 13:25), bahkan penyangkalan Petrus (Yoh. 13:38). Bukanlah suatu hal yang aneh jikalau peristiwa penolakan dan pengkhianatan dirangkaikan dengan kepedihan hati, sebagaimana dinyatakan dalam Yohanes 12:27 dan 13:21. Namun demikian, jika kita meneliti lebih lanjut, maka kepedihan hati Tuhan dengan sikap penolakan dan pengkhianatan, bukanlah sekedar suatu rangkaian yang lumrah. Mari kita telusuri kembali dengan singkat.

Penolakan dan pengkhianatan adalah merupakan suatu tindakan. Suatu tindakan yang tidak menghargai relasi dengan Yesus sekaligus dengan Allah (Yoh. 12:44-50). Ketika orang Yahudi menetapkan sikap menolak Yesus dengan ketidakpercayaan mereka, mereka bermaksud memutuskan relasi dengan Yesus, bahkan dengan orang-orang yang percaya kepada-Nya (Yoh. 12:42). Demikian pula ketika Yudas mengkhianati Yesus, ia meninggalkan Yesus dan rekan-rekan sepanggilannya untuk kemudian menjual gurunya (Yoh. 13:30). Keduanya mencerminkan tidak adanya lagi suatu percakapan, pergumulan dan penghargaan atas suatu relasi. Tindakan mereka seolah-olah memaksa Yesus untuk menerima keputusan mereka. Ketidakpercayaan orang Yahudi seolah-olah ingin meniadakan Yesus. Pengkhianatan Yudas seolah-olah bermaksud memaksa Yesus menuruti kemauannya, bahkan untuk mencapai maksudnya sendiri. Penolakan dan pengkhianatan seolah-olah bermaksud menjadikan Yesus pasif, tidak berdaya, dan akhirnya semata-mata menjadi korban. Bagaimana sikap Yesus kepada mereka?

Apakah semuanya ini kemudian menjadikan Yesus pasif, tidak berdaya dan kemudian masuk dalam kepedihan? Bagaimana pula sikap kita sebagai anak-anak-Nya menghadapi keaktifan orang berdosa atas kehidupan kita? Alkitab menegaskan bahwa kepedihan hati TUHAN bukanlah karena ketidakberdayaan dalam kepasifan, ataupun ketidakberdayaan menghadapi kejahatan manusia. Gema Kitab Nabi Yesaya menjelaskan hal ini (Yoh. 12:40). Demikian pula ketika Yesus menghadapi keaktifan Yudas yang mengkhianati-Nya, Yesus justru memberikan roti kepada Yudas dan berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Yesus tidak menjadi pasif dalam keaktifan kejahatan manusia. Ia aktif, sekaligus pedih! Inilah keajaiban pekerjaan Tuhan dalam dunia ini. Aktif tidak menjadikan arogan, seolah-olah semuanya hanya sekedar sandiwara dan kitalah sutradaranya. Pedih, bukan sekedar karena merasa menjadi korban kejahatan manusia dalam ketidakberdayaan. Inilah panggilan kita dalam jaman yang semakin rumit ini.

Bagaimana Yesus menghadapi penyangkalan Petrus? Penyangkalan Petrus membawa kepedihan tersendiri bagi Tuhan. Namun rangkaiannya berbeda dengan penolakan dan pengkhianatan. Antara Yesus dan Petrus masih ada percakapan. Petrus masih bergumul dengan Tuhannya. Petrus sangat menghargai dan memelihara relasi dirinya dengan Tuhannya (Yoh. 13:9, 37). Ketika suami-istri berselisih, ketika sesama jemaat berselisih, ketika orang tua-anak berselisih, marilah kita meletakkannya dalam pergumulan dan percakapan dalam persekutuan yang telah dianugerahkan Tuhan bagi kita. Ketika kita sukar memahami pimpinan Tuhan, ketika kita tersesat, kembalilah bergumul dalam persekutuan dengan-Nya. Jangan biarkan ‘percakapan’ kita dengan Tuhan tersingkirkan oleh berbagai percobaan dan kelemahan diri kita. Itulah sebabnya TUHAN menegaskan kembali hukum yang baru, yaitu kasih – menjadi ciri kehidupan murid sebagaimana Yesus mengasihi kita, bahkan sampai pada kesudahannya (Yoh. 13:1, sebagai pembukaan pasal 13). Kepedihan karena kasih sangat diperlukan. Kepedihan karena kita menghargai relasi kita dengan Tuhan harus kita pelihara. Kepedihan yang mendorong kita semakin lama semakin mengalami kelimpahan kasih-Nya dalam persekutuan kita satu dengan yang lain.

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in Uncategorized

 

25 Desember

Dua Puluh Lima Desember
Tanpa terasa satu bilangan tahun lagi hampir kita lewati dan masukkan dalam gudang kenangan. Berbagai pergumulan dan sejumlah anugerah telah kita nikmati. Tahun yang baru telah siap menyambut kita dengan segala kerumitan dan kebahagiaan di dalamnya. Memasuki bulan Desember, segenap orang Kristen dan gereja sibuk mempersiapkan diri untuk memperingati hari Natal. Sejauh manakah kita mengenal akan tanggal yang selalu diperingati sebagai hari Natal itu?

Tahun Kelahiran Yesus

Kita dan penanggalan internasional setiap tahun selalu menempatkan hari Natal pada tanggal 25 bulan Desember, dan menceritakan kepada anak Sekolah Minggu kita itulah tanggal kelahiran Yesus. Sebagian orang (termasuk salah satu media massa yang terbit di Jakarta baru-baru ini), dengan pemikiran kalau dalam bahasa Inggris ada sebutan ‘Before Christ (B.C.)’ atau ‘Sebelum Masehi (S.M.)’ untuk menyebut tahun-tahun sebelum kelahiran Yesus dan ‘Anno Domini (A.D.)’ atau ‘Masehi (M)’ untuk tahun sesudahnya, maka mereka menganggap Yesus lahir tepat pada tahun 0 Masehi. Padahal sebenarnya tahun 0 Sebelum Masehi dan/atau tahun 0 Masehi itu tidak pernah ada. Jadi kalau begitu, tahun berapakah Yesus lahir? Sebagian orang yang lain berpegang bahwa tahun 4 Sebelum Masehi adalah tahun kelahiran Yesus. Mengapa bisa begitu? Bukankah digunakannya tahun ‘Masehi’ adalah untuk memisahkan tahun sebelum dan sesudah kelahiran Yesus?

Menurut catatan Flavius Josephus, seorang ahli sejarah yang hidup pada tahun 37-100 Masehi (jadi tidak terlalu jauh dari masa kehidupan Yesus), dapat diketahui bahwa Herodes yang disebutkan dalam Matius 2:1 “………. pada jaman Raja Herodes ……” adalah Herodes Agung, yang hidup dari tahun 73-4 Sebelum Masehi. Raja Herodes inilah yang menyebabkan Yesus diungsikan ke Mesir. Baru setelah kematiannya, Yesus kembali dari pengungsian (lihat Matius 2:19-20). Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, bahwa Yesus dilahirkan sekurang-kurangnya beberapa tahun atau bulan sebelum 4 S.M. Dan menurut dugaan yang lazim, kelahiran Yesus adalah antara tahun 8 dan tahun 5 s.M.

Benarkah Yesus Lahir Tahun 5 s.M.?

Pada jaman itu, tahun dalam kekaisaran Romawi dihitung dari tahun berdirinya kota Roma. Tahun Romawi disebut AUC, singkatan dari Ab Urbe Condita, yang berarti ‘sejak berdirinya kota’. Kemudian pada abad ke-6, atas perintah Kaisar Justinian, seorang rahib bernama Dionisius Exigius membuat kalender baru. Ia mengganti perhitungan tahun Romawi dengan tahun Masehi, yang dimulai dari kelahiran Yesus. Tetapi di kemudian hari barulah diketahui bahwa ia membuat kekeliruan hitung. Ia menempatkan kelahiran Yesus pada tahun 753 AUC, padahal seharusnya pada tahun 749 atau 747 AUC. Kekeliruan ini sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dan sampai sekarang kita pun sudah terlanjur menggunakan tahun hasil perhitungan Dionisius itu, yang sebetulnya empat atau lima tahun terlambat dari kenyataan kelahiran Yesus.

Lalu Bagaimana dengan Bulan Kelahiran-Nya?

Apabila kita melihat di peta, maka kita akan menemukan bahwa Israel terletak di sebelah utara garis khatulistiwa, hampir sejajar dengan Jepang, yang berarti bulan Desember adalah musim dingin. Bagaimana dengan catatan Injil yang menjelaskan tentang para gembala pada malam kelahiran Yesus dalam Lukas 2:8 “….gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”? Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Yesus pasti bukanlah pada bulan Desember.

Seseorang bernama Klemens dari Alexandria membuat perhitungan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon, yaitu tanggal 20 Mei. Tetapi itu pun bukan merupakan suatu kepastian.

Mengapa Kita Tidak Punya Tanggal Kelahiran Yesus yang Pasti?

Pada jaman itu, merayakan ulang tahun hanyalah kelaziman orang kafir. Satu-satunya ulang tahun yang kita baca di Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (lihat Matius 14:6). Dan gereja pada jaman itu tidak merayakan kelahiran Yesus melainkan kebangkitan-Nya. Baru sekitar abad ke-3, umat Kristen di Mesir mulai merayakan Natal. Tanggal yang digunakan adalah 6 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum.

Gereja di Roma baru mulai merayakan Natal pada akhir abad ke-4, dan tanggal yang dipilih adalah 25 Desember. Pemilihan tanggal tersebut adalah untuk memberi isi yang baru kepada perayaan kafir yang menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Tidak lama kemudian kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember itu pun ditiru oleh gereja-gereja di tempat lain. Dan hingga sekarang, Natal dirayakan setiap tanggal 25 Desember oleh hampir semua gereja.

Anak Sekolah Minggu yang kritis mungkin akan bertanya: Jika demikian kenapa kita tidak menghitung ulang atau mengikuti perhitungan Klemens, yaitu merayakan Natal pada tanggal 20 Mei saja?

Dengan segala kerendahhatian dan tidak ada maksud untuk menggurui, berikut adalah beberapa hal yang saya bisa bagikan dan barangkali bisa dijadikan contoh jawaban atas pertanyaan semacam itu:
Perhitungan Klemens menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 20 Mei, namun itu pun belum pasti benar. Kenapa kita harus menggunakan tanggal yang kebenarannyapun masih diragukan?

Secara umum, sudah berlangsung selama berabad-abad, Natal dirayakan pada bulan Desember, tepatnya pada tanggal 25 Desember, kenapa kita harus menetapkan tanggal perayaan sendiri, yang lain daripada yang lain?

Kekeliruan perhitungan ini pastilah ada campur tangan dan atas ijin Allah, karena hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak mengijinkan orang untuk lebih mengutamakan atau lebih tepatnya mengkeramatkan tanggal tertentu lebih daripada yang lain; yang akhirnya justru akan melupakan bahwa rahmat, kasih dan anugerah-Nya selalu baru dan terlimpah setiap hari. Sebagai perbandingan kita dapat melihat bahwa peringatan akan Kematian Kristus atau Paskah, bukan ditentukan oleh tanggal tertentu tetapi oleh hari.

Atau perhitungan satu hari yang kita pakai sekarang, yaitu pagi-malam, yang berubah dari catatan perhitungan satu hari yang Allah berikan (lihat Kejadian 1:5, 8, 13, dst “… jadilah petang, jadilah pagi, itulah hari ….”)

Bukankah kenyataannya selama ini juga sudah berlangsung, bahwa banyak gereja yang melaksanakan perayaan Natal tidak tepat pada tanggal 25 Desember?

Kesalahan tanggal dalam merayakan hari Natal, tidak akan berpengaruh terhadap iman kepercayaan dan keselamatan kita.
Yang lebih utama dan terutama harus dipikirkan, ditekankan dan diajarkan dalam perayaan Natal adalah hadiah atau komitmen apa yang akan kita berikan sebagai persembahan kepada Kristus, pada saat kita memperingati hari kelahiran-Nya?

Jadi sekarang kreatifitas guru dan waktu (usia) yang tepat diperlukan untuk mengajarkan hal ini kepada anak-anak Sekolah Minggu, agar tidak membuat mereka justru menjadi bingung dan akhirnya kehilangan arti/makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Kristus ke dunia ini.

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in Uncategorized

 

Hidup karena berpaling

Hidup Karena Berpaling
Charles Haddon Spurgeon

Walaupun mengetahui bahwa ayah dan kakeknya adalah pendeta-pendeta Inggris yang terkenal, hal ini tidak banyak menolong Charles yang berusia lima belas tahun, yang mempunyai banyak kesusahan itu.

“Saya kira dosa saya lebih besar daripada dosa orang lain,” keluhnya. “Saya menangis memohon pengampunan kepada Allah, tetapi saya takut Ia tidak akan mengampuni saya.”

Pada waktu bersekolah di Colchester, Charles yang muda itu berjanji, “Saya akan menghadiri setiap gereja di kota ini untuk mengetahui bagaimana menjadi seorang Kristen.”

Ia mendengar sebuah kotbah yang diambil dari Galatia 6:7, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” Tetapi pengkhotbah itu tidak mengatakan bagaimana caranya ia dapat menghindari tipuan. Setelah enam bulan mengunjungi setiap gereja yang dapat ia temui, ia merasa hampir putus asa.

Kemudian tibalah tanggal 6 Januari di tahun 1850 yang dingin dan bersalju. Dengan patuh Charles pergi menghadiri gereja yang telah dipilihnya. Pada saat ia berjalan, hatinya merasa lebih dingin daripada salju yang turun itu. Ketika ia tahu bahwa badai yang dahsyat akan menahannya untuk dapat mencapai tujuannya, ia membelok ke sebuah gereja kecil yang tak dikenal, yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya.
Pertama-tama ia ragu-ragu memasuki Gereja Metodis Sederhana di Artilery Street itu. Di kemudian hari Ia berkata, “Saya telah mendengar bahwa orang-orang itu menyanyi begitu keras, sehingga membuat orang menjadi pusing.”

Tetapi Charles Spurgeon menyelinap masuk dan duduk. Setelah beberapa menit dalam kesunyian yang menyiksa, seorang pria yang tinggi kurus berjalan dengan terseret-seret ke mimbar. “Rupanya pendeta kita terhalang oleh cuaca,” ia menjelaskan, “saya kira Saudara-saudara sekalian harus tahan mendengarkan saya.”

“Sekarang saya akan membaca sebuah ayat seperti apa yang dilakukan oleh pengkhotbah-pengkhotbah lain,” pria yang sederhana itu melanjutkan. “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!” (Yesaya 45:22). Sambil duduk di bangku gereja, Charles mengernyitkan dahinya dan berpikir, “Mengapa ia tidak dapat mengucapkan kata-katanya dengan sepatutnya?”

Di mimbar, pengkhotbah pengganti itu mulai menceritakan ayat itu berputar-putar, karena ia tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. “Ayat ini mengatakan, “Berpalinglah,” ia berbicara dengan cara yang membosankan. “Nah, dengan berpaling itu, Saudara tidak akan merasa sakit sedikitpun. Tidak perlu pula mengangkat kaki atau jari Saudara; hanya ‘Berpaling’!

“Nah, beberapa di antara Saudara sekalian berpaling kepada diri sendiri, tetapi tidak ada gunanya berpaling ke situ. Saudara mungkin mengatakan, ‘Tunggulah Roh Kudus bekerja.’ Tetapi saya katakan, berpalinglah kepada Kristus!”

Mata beberapa pendengar yang bosan itu mulai melihat ke sana ke mari, tetapi mata Charles Spurgeon tidak. Ia menatap pengkhotbah yang kurang pengetahuan itu seolah-olah berkata, “Mengapa saya tidak memikirkan ini sebelumnya?”

Pada saat pengkhotbah itu mengulur-ulur ayatnya, ia mulai berteriak, “Berpalinglah kepada-Ku, ‘Aku berpeluhkan darah; Aku tergantung di salib.’” Kemudian pria yang tinggi itu melihat wajah Charles yang tegang.

“Anak Muda, kamu tampak sedih,” teriaknya pada saat anak laki-laki itu menggeser satu inci ke bawah di tempat duduknya yang tidak enak itu. Kemudian ia mengangkat tangannya serta berteriak dengan gaya Metodis yang sederhana, “Anak Muda, berpalinglah kepada Yesus Kristus. Berpalinglah! Berpalinglah!”

Charles kemudian memberikan kesaksian, “Aku segera melihat jalan keselamatan itu. Aku melihat sampai benar-benar berpaling kepada Kristus. Kegelapan hilang lenyap dan aku melihat matahari. Aku merasa dapat meloncat dari tempat dudukku dan berteriak sekeras-kerasnya bersama dengan saudara-saudara Metodis ini, ‘Aku diampuni!’.”
“Oh, betapa ingin aku melakukan sesuatu bagi Kristus,” Charles menulis kepada ibunya setelah ia pulang ke rumah. Dalam seminggu ia telah berbuat sesuatu. Pertama-tama ia membagikan traktat; kemudian ketika persediaan traktatnya habis, ia menulis di atas carik-carik kertas dan menjatuhkannya di jalan dengan harapan agar seseorang dapat tertolong jiwanya.

Ia mulai mengajar Sekolah Minggu pada usia enam belas tahun dan setahun kemudian dipanggil sebagai gembala jemaat di gereja kecil Waterbeach Chapel. Kemudian ia pindah ke London, ke gereja yang lebih besar; Sebelum ia berumur dua puluh satu tahun, ia diberi julukan ‘Anak Ajaib dari Inggris.’ Pada usia dua puluh tiga tahun, ia berkhotbah kepada tepatnya 23.645 orang dalam suatu kebaktian. Gerejanya membangun gereja Metropolitan Tabernacle yang mempunyai tempat duduk yang bisa memuat lima ribu lima ratus orang. Ia mendirikan sebuah perguruan tinggi bagi para pengkhotbah, sebuah panti asuhan dan bahkan menerbitkan sebuah surat kabar Injil. Khotbah-khotbahnya diterbitkan oleh surat kabar Amerika. Dan sampai sekarang – seratus tahun kemudian – masih banyak orang percaya bahwa Charles Haddon Spurgeon adalah pengkhotbah terbesar sejak Rasul Paulus.

Pada tahun 1864, Spurgeon kembali mengunjungi gereja di Artilery Street. Ia berkhotbah dari Yesaya 45:22, ayat yang menyebabkan dia bertobat. Sambil menunjuk ke sebuah tempat duduk di bawah balkon, ia berkata, “Saya pernah duduk di bangku itu.”
Identitas sebenarnya pengkhotbah pengganti yang tinggi kurus itu masih menjadi teka-teki. Pengkhotbah itu tidak pernah maju ke muka untuk menyatakan bahwa ia menyampaikan khotbah yang mendorong Spurgeon yang terkenal itu untuk berpaling kepada Kristus.

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in Uncategorized

 

Pelayanan

Pada waktu kita melihat jaman dalam konteks pelayanan kita, dapat dikatakan bahwa jaman ini adalah jaman yang selalu berubah, tidak sama dengan jaman yang dahulu maupun yang berikutnya. Suatu jaman selalu mempunyai tanda, semangat dan warna tersendiri yang berbeda dari jaman sebelumnya. Memang, pada waktu kita melihat jaman dalam kehidupan, kita lihat adanya suatu culture yang sebenarnya berubah secara drastis. Di dalam hal ini juga, generasi Saudara adalah suatu generasi yang sangat unik, karena kita berada dalam satu peralihan dari suatu culture, dan mungkin kita sendiri, selama melaluinya, tidak menyadarinya. Dalam jaman kehidupan Saudara ini, Saudara merupakan saksi dari berlangsungnya suatu jaman dan juga berakhirnya suatu jaman, masuk menjadi jaman yang baru.

Jaman pertama adalah jaman modern. Jaman kedua adalah jaman postmodern atau pasca-modern. Secara unik, Saudara berada dalam tengah peralihan suatu jaman. Hal ini merupakan suatu yang sangat besar dalam sejarah, karena sejarah pemikiran modern sudah berlangsung selamai 200 tahun. Saudara berada dalam perbatasan akhir dari jaman modern dan akan melangkah dalam suatu jaman yang baru, yaitu jaman postmodern.

Tetapi, kita perhatikan, jaman adalah jaman yang berubah, mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Tetapi bagaimana dengan pelayanan gereja kita? Seringkali kita melihat bahwa pelayanan kita justru tidak berubah dari waktu ke waktu. Jaman terus berubah, tetapi pelayanan kita sebagai orang Kristen tidak mengalami perubahan yang berarti. Sehingga gereja sangat lambat dan tidak peka dalam mengantisipasi semangat jaman yang berubah. Kita tidak memperhatikan persoalan itu.

Ada kata-kata yang menyindir orang-orang pada jaman ini: if you are not confuse, you probably don’t know what is happening; Jikalau kamu tidak bingung, mungkin kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jika Saudara tidak bingung melihat semangat, dan apa yang sedang berlangsung pada jaman ini, tidak berarti bahwa Saudara melihat/memperhatikan jaman ini, melainkan Saudara tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Pada waktu kita melayani, kita tidak menyadari bahwa jaman sudah berubah, sehingga pelayanan kita semakin lama semakin menurun. Dalam kesempatan sharing antar-gereja nanti*, kita bisa share satu sama lain mengenai pelayanan gereja kita. Mungkin sebagian gereja mengalami penurunan, sebagian gereja mengalami kemajuan. Kita akan melihat faktor-faktornya.

Kalau pelayanan kita menjadi sesuatu yang menurun, maka ini harus membuat kita berpikir: Kenapa orang-orang tidak datang ke persekutuan pemuda? Apa yang harus kita lakukan? Pada akhirnya, yang kita lakukan untuk pelayanan kita adalah bersaing dengan dunia. Bagaimana bersaing dengan dunia? Misalnya: dunia mempunyai bioskop, maka kita juga membuat pertunjukan film. Tetapi bedanya kalau bioskop dapat menarik banyak orang, tetapi film yang kita putar, misalnya Jesus in Campus Crusade, maka seluruh jalan cerita film itu sudah dapat ditebak, sehingga membuat orang lain merasa lebih baik nonton di bioskop.

Jadi apa yang kita lakukan di komisi pemuda adalah bersaing dengan dunia. Mungkin satu saat Saudara berhasil dengan membuat suatu acara yang sangat menarik, misalnya membuat suatu pertunjukan kejutan.

Dari semua acara yang menarik itu, pasti ada acara yang kurang menarik, dan ada acara yang lebih menarik dari acara-acara menarik yang lainnya. Hal itu membuat kita mati-matian dengan tak habis-habisnya berpikir bagaimana membuat suatu acara yang lebih menarik dari acara yang sebelumnya, yang sudah menarik itu. Maka akhirnya, kita tidak akan mampu dan tidak mungkin bekerja sepenuh hidup kita hanyak untuk acara komisi pemuda itu. Akhirnya kita terpuruk pada kesulitan pelayanan. Semakin lama semakin lemah, dan akhirnya persekutuan pemuda kita juga semakin lama semakin merosot.
Dalam keadaan seperti demikian, apa yang harus kita lakukan?

Ada satu hal yang harus kita lakukan, yaitu: KEMBALI KE DASAR, back to basics. Kita tidak mungkin bersaing dengan entertainment yang ditawarkan oleh dunia, maka kita harus kembali kepada apa yang Tuhan ingin kita lakukan di dalam kehidupan. Kita harus kembali kepada hal tersebut.

Kita lihat di Pengkotbah 1:4-8. Kita melihat bahwa Pengkotbah memperhatikan hidup manusia hanya sekedar sebagai lingkaran, yang saya istilahkan, lingkaran kesia-siaan.
Semua perputaran dalam alam itulah yang dilihat oleh Pengkotbah sebagai suatu lingkaran kesia-siaan. Dalam ayat 8 dikatakan segala sesuatu menjemukan, karena Pengkotbah melihat segala sesuatu adalah pengulangan dari apa yang pernah terjadi, meskipun tidak selalu persis, tetapi ada a continual beginning, suatu permulaan yang sama terus-menerus, sehingga menjadi suatu lingkaran kesia-siaan.

Manusia dalam proses kehidupannya, dari lahir hingga ia meninggal, kemudian diteruskan ke generasi berikutnya, tidak pernah dapat terlepas dari pola pengulangan yang sama, yang dikatakan Pengkotbah sebagai lingkaran yang menjemukan. Satu-satunya jalan untuk menerobos lingkaran kesia-sian ini adalah dengan melakukan Linearisasi Kehidupan. Artinya di dalam kehidupan, kita tidak hanya berjalan mengikuti lingkaran-lingkaran dalam kehidupan, tapi kita juga berjalan menuju ke sebuah tujuan yang ingin kita capai, dan tujuan yang ingin kita capai adalah CHRIST-LIKENESS, menjadi serupa dengan Kristus. Inilah tujuan utama dari kehidupan orang Kristen dalam suatu lingkaran kehidupannya, dimana ia telah berjumpa dengan Kristus (Roma 8:29). Itulah yang seharusnya menjadi tujuan setiap pribadi yang telah ditebus.

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in Uncategorized

 

Tags:

Berubah menurut kehendak Allah

“JANGANLAH kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Rm.12:2).

Secara alamiah manusia dari waktu ke waktu mengalami perubahan: dulu rambut hitam legam, kini hitam putih; dulu remaja, sekarang menjadi pemuda (dulu muda kini telah tua). Tentu saja ada perubahan yang memerlukan rekayasa dari diri kita: dulu malas sekarang rajin; dulu sombong kini rendah hati. Perubahan yang direkayasa ini menuju kepada yang baik, berkenan kepada Allah, dan yang mengarah kepada kesempurnaan. Surat Roma pasal dua belas mencatat hal-hal yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Mari perhatikan beberapa di antaranya.

Pertama, Allah memberikan kepada kita karunia yang berlain-lainan (karunia bernubuat, karunia melayani, karunia mengajar), menurut kasih karunia-Nya. Karunia yang berbeda itu untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menonjolkan diri. Semua karunia itu diberikan oleh Allah yang satu dan yang sama, dan dengan demikian semuanya tentu mulia dan berharga.

Mungkin saja ada umat yang merasa karunia yang dimilikinya lebih “hebat” dibandingkan dengan yang lain, eksklusif, bukan karunia “pasaran” (karunia menyembuhkan dianggap lebih hebat dibandingkan dengan karunia menasihati. Banyak orang bisa memberikan nasihat, tapi berapa yang dapat menyembuhkan). Pemikiran seperti ini mesti diubah karena kurang berkenan kepada Allah.

Hal lain yang Paulus katakan kepada jemaat Roma: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”(Rm.12:11). Paulus mengamati bahwa sebagian umat semangat pelayanannya mulai kelap-kelip, hampir padam. Mereka melayani sepertinya asal-asalan, kata mereka: “rajin atau tidak rajin honornya sama saja. Kalau begitu untuk apa rajin?” Mereka lupa, bahwa Allahlah yang dilayani, bukan manusia!

Paulus tidak hanya berbicara, namun ia lakukan. Saat usianya sudah tua, dan dalam keadaan di penjara, ia tetap memberitakan Kabar Baik kepada Onesimus (Flm.1:9-10). Semangat pelayanannya tetap berkobar-kobar walau umur telah lanjut. Kita masih ingat, bagaimana Paulus ingin pergi ke Spanyol karena: “aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini’” (Rm.15:23). Setiap umat perlu membaharui semangat pelayanannya supaya berkenan kepada Allah.

Lebih lanjut Paulus berkata kepada jemaat Roma: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”(Rm.12:15). Hal yang senada ia katakan kepada umat di Korintus: “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”(I Kor.12:26). Ada kalanya dalam kehidupan bermasyarakat hal di atas tidak nampak, bahkan terbalik.

Sering kita bersukacita bila “pihak lain” mengalami kegagalan (rumah tangganya pecah, usahanya bangkrut, anaknya kena narkoba); dan bersedih bila umat lain beroleh keberhasilan (mendapat undian mobil BMW, mendapat beasiswa S-2 di Jepang). Acapkali kita mendengar bahwa olahragawan/ti semestinya memiliki sikap sportif. Faktanya bisa berbeda. Muncul kekecewaan saat rekor seseorang dipecahkan oleh pihak lain; sukacita timbul waktu tendangan penalti pihak lawan gagal membuahkan gol. Kita perlu merenungkan, manakah yang baik, yang berkenan kepada Allah (bukan yang menyenangkan diri kita sendiri).

Hal yang tidak kalah penting: “Kalahkan kejahatan dengan kebaikan!”(Rm.12:21). Saat kita memiliki kasih (agape) maka kita melakukan hal yang berkenan kepada Allah: muncullah pengampunan, melupakan kesalahan orang lain, dan berbuat kebaikan kepada siapa saja (entah kawan maupun lawan). Apakah kita siap untuk berubah kearah ini sekarang? Atau kapan-kapan?**

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in Uncategorized

 

Tags:

Ingin berhenti merokok? baca !

Stop Rokok 12 Jam Dijamin Sehat!

Bagi pecandu rokok, menghentikan kebiasaan merokok merupakan hal yang sulit. Namun ternyata, tubuh akan memperbaiki sistemnya ketika seseorang mulai berhenti merokok selama 12 jam.

Perasaan buruk akan terasa di awal, namun pada saat itulah proses penyembuhan kerusakaan akibat rokok dimulai. Karbon monoksida dan kandungan nikotin dalam tubuh akan hilang secara perlahan. Kandungan berbahaya tersebut akan hilang sama sekali dalam waktu 2-3 hari setelah berhenti merokok. Pada saat itu akan timbul perasaan tak tenang serta emosi yang tidak stabil. Rasa lapar, serta keletihan yang berlebihan bahkan kesulitan tidur pun terasa. Gejala tersebut menandakan bahwa tubuh sedang membersihkan sisa-sisa nikotin yang ada.

Dalam 2-3 minggu sejak berhenti merokok sirkulasi tubuh akan mulai memperbaiki kerusakan pada paru-paru. Dalam jangka waktu 1-9 bulan, batuk-batuk dan nafas pendek akan menghilang. Paru-paru mulai bersih dan fungsinya kembali normal.

Gejala-gejala seperti depresi, frustasi dan sakit kepala juga akan melanda pada awal proses penyembuhan. Namun hasilnya, Anda akan terbebas dari risiko kanker, jantung, kemandulan dan kerusakan paru-paru. Dengan sedikit kesabaran dan niat yang keras, Anda akan mendapatkan kualitas kesehatan yang luar biasa. Masih berpikiran untuk menjadi pecandu rokok?

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in Uncategorized

 

Tags:

Occultisme

Occultisme

Occultisme terdiri dari dua kata, yaitu “Occul” yang berarti gelap dan “Isme” berarti faham atau ajaran. Occultisme adalah ajaran atau faham mengenai kuasa-kuasa kegelapan dan hal-hal kegelapan. Kuasa kegelapan berasal dari iblis atau setan. Setan yang dapat menipu dan membutakan mata manudis terhadap hal-hal yang terang. Karena itu, iblis dapat menjelma seperti malaikat terang ( 2 Kor. 11:14), ia dapat memutar-balikkan firman Allah sehingga manusia tergiur terhadap bujukannya. Di sinilah orang sering tertipu dengan istilah ilmu hitam adalah jahat dan ilmu putih itu yang baik. Padahal, kedua ilmu tersebut adalah kuasa kegelapan.

Ilmu putih memakai ayat-ayat firman Tuhan untuk menolong orang yang sedang diliputi kesusahan, ketakutan dan kena guna-guna. Orang ingin mempertahankan bahwa ilmu itu baik, pada hal ini hanyalah permainan iblis atau setan untuk menglabuhi orang.

Mengapa orang ingin memakai atau belajar kuasa kegelapan?
Ada beberapa alasan, sbb:
a. Kurang rasa aman,
b. Takut disaingi oleh orang lain,
c. Ingin cepat kaya,
d. Ingin awet muda dan tetap kelihatan cantik atau tampan,
e. Ingin cepat dapat jodoh, dsb.

Dengan demikian, orang yang memakai kuasa kegelapan adalah orang yang tidak percaya diri (PD), bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan yang mulia. Dan tidak mempercayai Tuhan sebagai penyelamat dalam hidupnya. Bentuk-bentuk occultisme berupa jimat, mantera, mempercayai hari baik dan hari jahat sehingga tahu kapan boleh pergi dan kapan tidak boleh pergi atau melakukan sesuatu. Mempercayai horoskop, yaitu ramalan melalui bintang, seperti Gemini, Virgo, Aries dan sebagainya, dengan kata lain mempercayai ramalan-ramalan. Pelaku occultisme adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadinya. Mereka adalah orang-orang yang mengeraskan hatinya untuk mengikut Tuhan. Mereka ini seperti: dukun, para peramal, dsb. Sangat disayangkan, jika orang percaya meminta nasihat kepada mereka, bukan kepada orang yang takut akan Allah. Orang semacam ini tidak berbahagia, mengapa? Karena Pemazmur berkata: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fisik, yang berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh” (Maz.1:1).
Orang fisik adalah orang yang tahu kebenaran firman Tuhan, tetapi ia tidak melakukan firman itu dalam kehidupannya, melainkan ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah atau firman Tuhan. Orang berdosa adalah orang yang menentang Allah, atau dengan kata lain, orang yang menolak Allah. Orang pencemooh adalah yang mengejek orang benar. Orang percaya tidak boleh pergi dan meminta nasihat, pertolongan melalui orang-orang tersebut. Jika kita meminta pertolongan atau nasihat kepada orang-orang tersebut, maka kita sedang menuju jalan yang tidak dikehendaki Allah. Kita sedang dibelai dan dibujuk rayu oleh iblis, sehingga kita jatuh dalam pelukannya yang akan membawa pada ketidakpastian dalam hidup. Dan kita hidup dalam kutuk, putus hubungan dengan TUHAN. Bukankah kebahagian yang dicari oleh manusia? Ya, benar!
Tetapi kebahagian itu bukan diperoleh begitu cepat. Kebahagian itu merupakan suatu proses dalam kehidupan manusia atau orang percaya. Kebahagian itu bukan diperoleh dengan kuasa di luar kuasa Allah, melainkan di dalam Tuhan Yesus Kristus, Yaitu dengan membaca dan melakukan firman-Nya (Maz/1:2). Bagimana sikap kita terhadap occultisme? Ada beberapa hal sbb: a. Kita harus menyadari bahwa occultisme itu ada dan harus diwaspadai dalam hidup kita. Iblis juga memiliki kuasa untuk mempengaruhi manusia. Sehingga kita jangan sekali-kali mau mencobanya. b. Kuasa Iblis sudah dikalahkan oleh Tuhan Yesus melalui karya penebusan-Nya, sehingga orang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadinya, dia akan menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12; Jol.1:13), bukan lagi sebagai anak-anak iblis (Yoh. 8:44). c. Kita harus melawan kuasa kegelapan itu, karena kita telah diberikan kuasa oleh Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus (Mat. 10:1; Mrk/16:25-28; Luk. 10:16). (*)

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2008 in Uncategorized

 

Tags:

Suka, Cinta dan Sayang dalam Perbandingan

Dihadapan orang yang kau cintai, musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah.

Dihadapan orang yang kau sukai, musim dingin tetap saja musim dingin hanya suasananya  lebih indah sedikit.

Dihadapan orang yang kau cintai, jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat.

Dihadapan orang yang kau sukai, kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai, matamu berkaca-kaca.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai, engkau hanya tersenyum saja.

Dihadapan orang yang kau cintai, kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam.

Dihadapan orang yang kau sukai, kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis, engkau pun akan ikut menangis disisinya.

Jika orang yang kau sukai menangis, engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga.

Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai, cinta itu berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta… ada perasaan yang lebih mendalam yaitu rasa sayang…. rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta. Rasa yang tidak mudah berubah. Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi. Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.

Cinta ingin memiliki. Tetapi Sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia.. walaupun harus kehilangan.

Salam sayang.

 
Leave a comment

Posted by on July 2, 2008 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.