“JANGANLAH kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”(Rm.12:2).
Secara alamiah manusia dari waktu ke waktu mengalami perubahan: dulu rambut hitam legam, kini hitam putih; dulu remaja, sekarang menjadi pemuda (dulu muda kini telah tua). Tentu saja ada perubahan yang memerlukan rekayasa dari diri kita: dulu malas sekarang rajin; dulu sombong kini rendah hati. Perubahan yang direkayasa ini menuju kepada yang baik, berkenan kepada Allah, dan yang mengarah kepada kesempurnaan. Surat Roma pasal dua belas mencatat hal-hal yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Mari perhatikan beberapa di antaranya.
Pertama, Allah memberikan kepada kita karunia yang berlain-lainan (karunia bernubuat, karunia melayani, karunia mengajar), menurut kasih karunia-Nya. Karunia yang berbeda itu untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menonjolkan diri. Semua karunia itu diberikan oleh Allah yang satu dan yang sama, dan dengan demikian semuanya tentu mulia dan berharga.
Mungkin saja ada umat yang merasa karunia yang dimilikinya lebih “hebat” dibandingkan dengan yang lain, eksklusif, bukan karunia “pasaran” (karunia menyembuhkan dianggap lebih hebat dibandingkan dengan karunia menasihati. Banyak orang bisa memberikan nasihat, tapi berapa yang dapat menyembuhkan). Pemikiran seperti ini mesti diubah karena kurang berkenan kepada Allah.
Hal lain yang Paulus katakan kepada jemaat Roma: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”(Rm.12:11). Paulus mengamati bahwa sebagian umat semangat pelayanannya mulai kelap-kelip, hampir padam. Mereka melayani sepertinya asal-asalan, kata mereka: “rajin atau tidak rajin honornya sama saja. Kalau begitu untuk apa rajin?” Mereka lupa, bahwa Allahlah yang dilayani, bukan manusia!
Paulus tidak hanya berbicara, namun ia lakukan. Saat usianya sudah tua, dan dalam keadaan di penjara, ia tetap memberitakan Kabar Baik kepada Onesimus (Flm.1:9-10). Semangat pelayanannya tetap berkobar-kobar walau umur telah lanjut. Kita masih ingat, bagaimana Paulus ingin pergi ke Spanyol karena: “aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini’” (Rm.15:23). Setiap umat perlu membaharui semangat pelayanannya supaya berkenan kepada Allah.
Lebih lanjut Paulus berkata kepada jemaat Roma: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”(Rm.12:15). Hal yang senada ia katakan kepada umat di Korintus: “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”(I Kor.12:26). Ada kalanya dalam kehidupan bermasyarakat hal di atas tidak nampak, bahkan terbalik.
Sering kita bersukacita bila “pihak lain” mengalami kegagalan (rumah tangganya pecah, usahanya bangkrut, anaknya kena narkoba); dan bersedih bila umat lain beroleh keberhasilan (mendapat undian mobil BMW, mendapat beasiswa S-2 di Jepang). Acapkali kita mendengar bahwa olahragawan/ti semestinya memiliki sikap sportif. Faktanya bisa berbeda. Muncul kekecewaan saat rekor seseorang dipecahkan oleh pihak lain; sukacita timbul waktu tendangan penalti pihak lawan gagal membuahkan gol. Kita perlu merenungkan, manakah yang baik, yang berkenan kepada Allah (bukan yang menyenangkan diri kita sendiri).
Hal yang tidak kalah penting: “Kalahkan kejahatan dengan kebaikan!”(Rm.12:21). Saat kita memiliki kasih (agape) maka kita melakukan hal yang berkenan kepada Allah: muncullah pengampunan, melupakan kesalahan orang lain, dan berbuat kebaikan kepada siapa saja (entah kawan maupun lawan). Apakah kita siap untuk berubah kearah ini sekarang? Atau kapan-kapan?**